Cepat Selamatkan
Kedua Ibu!
Banyak
yang telah mendengar keluhan dua Ibu kesakitan
Tetapi,
tidak ada yang tahu darimana suara derita datang
Keluhan
semakin keras bersama waktu, bertukar zaman
Mari, selamatkan kedua
Ibu kesakitan malang sekarang!
Pendahuluan
Agama telah menyampaikan
bahwa, manusia tidak terkecuali beragam makhluk lain, datang ke alam fana di
muka bumi ditakdirkan Allah Subhanahu Wataala, awalnya (pertama) sebagai ruh (bukan-benda) dalam perjalanan panjang. Setibanya
di muka bumi, manusia begitu pula makhluk lain melangsungkan pula perjalanan berikutnya
(kedua): diawali hadir dalam
kandungan, lalu lahir ke dunia sebagai bayi, menjadi balita, anak, remaja,
dewasa, orang-tua, kakek/nenek, men-jalani usia senja, dan akhirrnya tiba ke
batas usia. Untuk memperlihatkan keberadaan manusia, begitu juga makhluk lain
di permukaan planit biru agar terlihat, dapat bertegur sapa, berkomu-nikasi, dan
melakukan hal lain; manusia demikian juga makhluk lain mendapat pinjaman benda
(materi) dari muka bumi untuk “tubuh”, juga dinamakan orang “badan” atau “jasmani”.
Adapun yang dinamakan
belakangan, awalnya diberikan kedua orangtua pada manusia atau makhluk lain saat bersanggama, lalu usai menyusu kepada ibu yang
melahirkan, dipinjamkan langsung oleh bumi lewat kegiatan: minum, makan,
bernafas, bergerak, diolah Teknologi Makh-luk Hidup (TMH) yang berlangsung
dalam tubuh manusia atau makhluk lain dengan reaksi “kimia organik dingin” (cold organic
chemistry), memanfaatkan berbagai macam unsur kimia tercantum dalam tabel
Mendeleyev, kini lebih dikenal dengan table periodic, seperti: hidrogen,
aksigen, karbon, dan lainnya; dimana dua unsur kimia dituliskan terdahulu
merupakan yang terbanyak. Setelah menempuh kehidupan alam fana di muka bumi
serentang hayat melakukan “persiapan”, manusia demikian pula berbagai makhluk
lain, meneruskan perjalanan awal kem-bali sebagai ruh, setelah terlebih dahulu mengembalikan
badan atau jasmani (materi) yang dipin-jam dari muka bumi memenuhi panggilan
Allah Subhanahu Wataala.
Dari dua perjalanan
dikemukakan, yang banyak mendatangkan persoalan kepada manusia, ialah yang disebut
terakhir sebagai benda (materi), yakni perjalanan alam fana di permukaan bumi.
Tidak dapat disangkal, bahwa dalam perjalanan belakangan ini, terdapat “kewajiban”
dan “tang-gungjawab” yang harus diemban terjabar kedalam: 3 (tiga) golongan
agar tertib hidup dengan segala yang ada dapat tercipta. Pertama: hubungan dengan Sang Maha Pencipta, juga dikenal dengan
ungkapan: “hablumminAllah” karena telah
mendatangkan manusia dengan beragam makhluk lainnya ke Alam Semesta,
wabilkhusus permukaan bumi sebagai tempat berdiam, yang diselimuti atmosfer berisi
udara; begitu juga air yang memenuhi segala cekungan yang ada di permukaannya, mulai:
parit, kolam, sungai, danau, laut, hingga samudra; daratan sebagai tempat berdiam
dan berusaha. Yang disebut belakangan, tidak lain dari lahan untuk bertanan
menum-buhkan beragam tanaman: pangan, obat, sandang, papan, dan lainnya, dengan
cahaya dan panas didatangkan langsung dari matahari. Kedua: hubungan manusia antara sesam-anya apapun suku asal dan kepercayaannya,
juga dikenal dengan ungkapan: “hablumminannas”,
tidak terkecuali dengan aneka ragam makhluk lain yang juga terdapat di muka
planit biru. Ketiga: hubungan manusia
berikut makhluk lainnya dengan Alam Semesta, dikenal dengan ungkapan: “hablum-minalkaun”, wabilkhusus bumi juga
dinamakan “planit biru”, oleh keistimewaan dimiliki yang belum semuanya
terungkap kepada insan sampai kini, dan belum dapat ditemukan bandingannya dengan
planit manapun yang ada di Alam Semesta. Dan terhadap yang akhir, sebuah
“aturan ber-prilaku” (code of conduct) dimulai dari “sopan santun” hingga “etika”
dan “hukum” harus disu-sun segera guna “ditegakkan” dan “dipantau”
pelaksanaannya dengan pengadilan dikenakan kepada para pelanggarnya, sehingga
kedepan Alam Semesta, wabilkhusus bumi tempat berbagai makhluk bernyawa berdiam
akan dapat terpelihara kelestariannya dari kerusakan yang dise-babkan perbuatan
tangan manusia, baik oleh ketidak tahuan melahirkan kebodohan, juga yang tidak
bertanggungjawab, menelusuri waktu dan menempuh zaman.
Revolusi Industri
Surat
Al-Baqarah (Sapi Betina), Ayat 11, telah menyampaikan:
Dan bila dikatakan kepada
mereka: Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi24, mereka menjawab:
”Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan”.
24Kerusakan
yang mereka perbuat di bumi bukan berarti kerusakan benda, melainkan menghasut
orang-orang kafir untuk memusuhi dan menentang orang-orang Islam.
Selanjutnya,
surat Ali-Imran Ayat 112 mengemukakan pula:
Mereka diliputi kehinaan dimana
saja mereka berada, kecuali mereka berpegang kepada tali (agama) Allah
dan tali (perjanjian) dengan manusia218),
dan mereka kembali mendapat kemur-ka-an dari Allah dan mereka diliputi
kerendahan. Yang demikian itu219)
karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan
yang benar. Yang demikian itu220)
disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas.
[Sumber:
Al-Quran dan Terjemahannya, hadiah “Kerajaan Saudi Arabia”, berlangsung pada mu-sim
haji tahun 1983.]
Masih banyak lagi surat lain menyusul kemudian, juga
mengingatkan manusia agar “tidak membuat kerusakan di muka bumi”. Akan tetapi
dengan telah munculnya revolusi industri di Eropa: gelombang pertama diawali
tahun 1760 sampai 1820 dan 1840 (penghujung abad ke-18 dan awal abad ke-19), diteruskan
gelombang kedua dari
1840 hingga 1870; mengawali kemajuan perekonomian di daratan Eropa silam,
menemukan momentum dengan jaringan jalan kereta-api yang dihela lokomotiv-uap tersebar
di berbagai negara di bagian dunia itu; juga lahirnya ber-agam kapal: mulai sungai,
laut, hingga samudra yang dijalankan mesin-uap diawali di Amerika Serikat tahun
1850, untuk menggantikan layar yang dihembus angin. Penemuan pesawat-terbang
oleh Wright Bersaudara di Amerika Serikat memasuki abad ke 20, juga menjadi
bagian dari semua yang menyebabkan perubahan besar di muka bumi dalam berbagai
bidang kehidupan manusia, antara lain: perjalanan darat awalnya serba berjalan
kaki dimana-mana di seluruh dunia, dan gerobak (wagon) dihela ternak piaraan:
lembu, kerbau, kuda, dan lainnya, lalu digantikan mesin-uap lalu mesin-diesel; juga
angkutan laut yang digerakkan layar menjadi dijalankan mesin-diesel; muncul lagi
angkutan udara dijalankan mesin dan antariksa didorong roket meramaikan langit di
seputar bola bumi yang tidak terba-yangkan umat sebelumnya dapat disaksikan orang
di muka bumi.
Pertanian, industri, tambang, dan lain
sebagainya lalu beralih dari serba dikerjakan tenaga manusia dibantu hewan, menjadi samasekali
dijalankan mesin. Muncul pula beragam mesin perang, sebagaimana yang telah disaksikan
banyak orang dalam Perang Dunia ke-I dan Perang Dunia ke-II silam, dan sejumlah
perang kemudian menyusul, antara lain: perang Korea dan perang Vietnam, dan
lainnya.
Revolusi industry telah
mengubah lingkungan hidup umat di muka bumi, tidak terkecuali makh-luk lain dibandingkan
dengan berbagai macam zaman yang telah mendahului. Revolusi industri juga telah
mengubah hidup masyarakat manusia di muka bumi, mulai: adat-istiadat, komunitas,
tata-nilai, ekonomi, seni dan budaya, kepercayaan, agama, dan masih banyak lagi
lainnya di seantero planit biru, dimulai dari negara maju hingga dengan negara
yang masih berkembang. Revolusi industri yang dimulai dari Inggris, lalu meluas
ke seluruh Eropa, kemudian menyebar ke Amerika Utara, dan Jepang, akhirnya
melanda dunia, tidak terkecuali Indonesia. Revolusi yang semula dianggap
“berkah” untuk umat yang hidup di permukaan bumi dengan hadirnya beragam sarana
angkutan digerakkan mesin memudahkan orang bepergian kemana saja, tidak
terkecuali menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci di Mekah dan Madinah,
Saudi Arabia me-ngendarai pesawatterbang.
Akan
tetapi, setelah lebih dari dua setengah abad berlangsung, umat manusia lalu menyadari,
bahwa revolusi industri diawali dari Eropa silam terbukti menjadi “pembawa
bencana” kepada umat dan makhluk lain yang hidup di permukaan bumi, dengan semakin
seringnya timbul badai bertiup dengan “kecepatan pesawatterbang tinggal landas”;
salah satu daripadanya, ialah yang telah “meratakan kota Tacloban” yang terdapat
di Filipina belum lama berselang.
Surat Ar-Rum, ayat 41, dalam Al-Quran,
telah memperingatkan umat dengan ungkapan:
“Telah nampak
kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, su-paya
Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar
mereka kembali (ke jalan yang benar)”. Tampaknya peringatan surat Ar-Rum,
ayat 41, sekarang sedang berbuat merasakan kepada umat di muka bumi “sebahagian
dari akibat dari perbuatan tangan mereka, agar kembali ke jalan yang
benar”.
Sudah
sejak ratusan ribu tahun berlalu, terjabar kedalam berbilang zaman silam, Allah
Subha-nahu Wataala mengutus para Nabi datang ke bumi mengajarkan umat bagaimana
cara menjalani kehidupan alam fana di muka bumi, mulai dari menjalankan kewajiban
hingga dengan memikul tanggung jawab
yang harus diemban, agar manusia begitu juga makhluk lain sebagai bagian dari
Alam Semesta, wabilkhusus bumi, dapat berjalan dengan tertib dan aman. Tiga
orang Rasul terkenal tampil belakangan menemui umat di muka bumi, sebagaimana yang
diterangkan dalam Al-Quran, ialah: Nabi Musa AS membawa Kitab Taurat untuk umat
Yahudi, kemudian Nabi Isa Al-Masih AS yang membawa Kitab Injil untuk umat
Nasrani, dan terakhir Nabi Muhammad SAW yang membawa Kitab Al-Quran untuk umat
Muslim. Selain menyampaikan bermacam Kitab Suci memuat beragam surat berisikan
ayat-ayat yang menjabarkan, masih ada lagi cara hidup diteladankan para Rasul yang
diriwayatkan para penulis hadis tersebar luas yang ditinggalkan.
Sebagai benda (materi) ciptaan Ilahi terbentuk
dari bahan asal permukaan bumi lewat TMH, manusia begitu juga makhluk lain akan
berhadapan dengan beragam persoalan dan masalah berikut keragaman masing-masing
menjalani kehidupan alam fana di muka bumi sejak dari kan-dungan, lahir sebagai
bayi, menjadi balita, anak, remaja, dewasa, orang tua, kakek/nenek, men-jalani
usia senja, hingga tiba di akhir hayat. Setelah sekitar dua tahun menyusu pada
“ibu yang melahirkan”, tanggungjawab mengurus insan lalu diserahkan pada “ibu
asuh”. Adapun yang men-jadi “ibu asuh” manusia, begitu juga makhluk lain, ialah
“bumi” atau “planit biru”, karena yang akhir ini selain menjadi tempat berdiam bagi
insan dan makhluk lainnya, juga lingkungan hidup menyediakan beragam keperluan
hidup alam fana di muka bumi, seperti: udara, air, pa-ngan, obat-obatan,
sandang, papan, dan lain sebagainya, hingga dengan cahaya dan panas matahari,
sebelum akhirnya kembali menghadap pada Sang Khalik. Itulah sebabnya, mengapa setiap
makhluk ditakdirkan berdiam di permukaan sebuah planit dimanapun di Alam
Semesta (Al-Kaun) yang sangat luas ini, akan memperoleh dua ibu, masing-masing:
ibu yang melahirkan dinamakan: “Ibu Kandung”, disingkat IK, lainnya ibu yang mengasuh
dinamakan: “Ibu Asuh”, yang tidak lain dan tidak bukan ialah planit tempat berdiam
di Alam Semesta, dinamakan juga: Ibu Planit, disingkat IP. Setiap bangsa yang
ada di muka bumi ini mengenal apa yang dinamakan: “ibu-pertiwi”, yakni bagian dari
muka bumi yang dihuni oleh warga bangsanya. Dengan demikian Ibu Planit, merupahan
gabungan dari semua ibu-pertiwi yang dihuni segala bangsa yang ada di muka bumi
atau planit biru ini. Itulah sebabnya mengapa planit, dimana manusia dan berbagai
makhluk lain yang ada di Alam Semesta bernama: Ibu Bumi, disingkat IB. Dengan
demikian setiap mahluk yang berada di Alam Semesta, di planet manapun mahluk
tadi ditakdirkan Allah Subhanahu Wataala berdiam, akan dilahirkan IK
masing-masing dan diasuh IP bersama.
Ibu Bumi
Sumber: Google
Kehidupan Alam Fana
Tidak terhitung banyak
persoalan berikut ragamnya dihadapi manusia dalam menjalani hidup alam fana di permukaan
bumi, terjabar kedalam: perorangan, keluarga, kelompok, suku, daerah, nasional,
dan internasional. Ada persoalan anak baru menginjak puber berikut kenakalannya
yang memerlukan perhatian. Ada lagi persoalan kemiskinan umat yang berdiam di muka
bumi yang membutuhkan pemecahan. Ada pula persoalan buta huruf menghlangi kaum
muda memperoleh pendidikan diperlukan. Ada persoalan kakek/nenek lemah fisik sudah
pikun yang jumlahnya makin bertambah di
negara ekonomi maju. Ada masalah keyakinan, agama, inte-lektual, dan banyak lagi
lainnya memerlukan perhatian masyarakat dan pemerintah. Ada masalah pengrusakan
hutan di muka bumi yang belum dapat dikendalikan oleh yang berwenang. Ada
masalah yang termasuk: kriminal, narkoba, pembajakan, pelanggaran disiplin, keteladanan
moral. Ada lagi kejahatan dunia maya, penyadapan informasi, dan masih banyak
lainnya. Yang tidak kalah mengkhawatirkan umat yang hidup di muka bumi ialah pencemaran
lingkungan hidup mulai: darat, air (parit, kolam, kanal, sungai, laut, hingga
samudra), atmosphere, juga angkasa sekeliling bola bumi, sejak “revolusi
industri” dilakukan orang lebih dari dua abad di daratan Eropa silam. Perlu juga
diketahui, setiap persoalan yang dikemukakan diatas mem-perlihatkan dinamika
masing-masing, artinya: ada persoalan yang baru timbul, ada lagi per-masalahan yang
terus bertahan, ada pula yang hilang sementara lalu tiba-tiba timbul lagi secara
tidak terduga. Itulah sebabnya mengapa persoalan yang dihadapi insan dalam alam
fana di permukaan bumi tidak dapat dingkapkan semuanya, apalagi untuk diperinci
satu per satu. Selain dari itu, beragam persoalan ini muncul saling berkejaran dan
masing-masing menuntut peme-cahan, karena manakala terlambat, dapat menimbulkan
malapetaka atau marabahaya kepada umat, atau makhluk lain yang sedang menjalani
hidup alam fana di permukaan bumi.
Rumah Ilahi
Selama
Nabi Muhammad SAW berada di muka bumi silam, beliau menganjurkan umat untuk mendirikan
mesjid. Mesjid adalah “bait ul-Alah” artinya “rumah Ilahi”, karena tempat berdirinya
ditemukan oleh mereka yang sudah memperoleh petunjukNya, sedangkan dana
pembangunannya datang dari mereka yang rela berbagi rezeki, karena hati mereka
pun telah digerakkanNya. Tidak kurang dari 1.000.000 Mesjid yang berdiri di
Nusantara, besar dan kecil, tersebar dari desa sampai ke kota, kecil hingga besar,
tidak terkecuali di Ibukota negeri. Lebih banyak lagi mesjid yang telah didirikan
orang di bagian dunia lain diluar Tanah-Air. Semua rumah Ilahi menjadi “tempat
beribadah” kepada Yang Maha Esa (HablumminAllah) sebagaimana yang dikemukakan dalam
Surat Ali-Imran, Ayat 112; juga “tempat bersilaturrakhmi” antara seluruh umat
(Hablum-minannas), dalam menyebarluaskan dan memperdalam keimanan beragama termasuk
menimba bermacam ilmu pengetahuan yang telah disemaikan Allah Subhanahu Wataala
ke Alam Semesta, dimulaii dari langit sampai dengan kedalaman perut setiap
benda langit.
Dengan
timbulnya “revolusi industri” di muka bumi, lalu menyebar ke segala penjuru
dunia, ti-dak terkecuali Tanah-Air, dan telah menimbulkan berbagai pencemaran
terhadap lingkungan hidup umat mulai: darat, laut, udara, sampai antariksa;
berlangsung lebih dari dua abad lamanya, maka tidak ada pilihan lain kepada
semua umat beragama, juga seluruh manusia, mengambil langkah nyata untuk menghilangkan
segala “penyebab” timbulnya pencemaran lingkungan hidup di: darat, laut, udara,
antariksa sejak dari awal revolusi industri sampai dengan saat ini, dari
permukaan bumi.
Dalam menanggulangi pencemaran lingkungan
hidup yang diakibatkan “revolusi industri” dia-wali dari Eropa silam, dan kini
sangat meresahkan IB yang bertugas mengasuh beragam makhluk yang berdiam di muka
bumi, Surat Ali-Imran, Ayat 112, perlu didukung oleh Surat Ar-Rum, Ayat
41, yang mengatakan: “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut
disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada
mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan
yang benar)”.
Dengan Surat Ali-Imran, Ayat 112, umat
di muka bumi masih berada di zaman Nabi Muhammad SAW, dan umat masih belum
memasuki era “revolusi industri”, karena masih berpandangan hidup “duologi”, artinya:
HablumminAllah dan Hablumminannas saja. Akan tetapi kini, dengan telah
berlangsungnya “revolusi industri” yang diawali dari Eropa lebih dari dua abad silam,
dan telah dengan jelas memperlihatkan tanda-tanda “perubahan iklim” yang nyata
di muka bumi; teguran atau peringatan Surat Ar-Rum, Ayat 41, harus segera dilibatkan
guna menyelamatkan: IB (Ibu Bumi) dan IK (Ibu Kandung). Gabungan dari
peringatan Surat “Ali-Imran, Ayat 112” dengan Surat “Ar-Rum, Ayat 41”,
melahirkan pandangan hidup: “trilogi”, yakni: Hablummin-Allah, Hablumminannas,
dan Hablumminalkaun, kini sangat dibutuhkan untuk periode kehi-dupan umat setelah
“revolusi industri” muncul di permukaan bumi.
Pertukaran “pandangan hidup” ini harus segera
disampaikan dan dikomunikasikan kepada setiap orang yang hidup di muka bumi
oleh para ahli dakwah, baik mereka yang bertugas di berbagai Mesjid maupun Rumah-rumah
Suci beragam kepercayaan lain yang tersebar di muka bumi, dilaksanakan kaum
rohaniawan, mulai Imam berikut jajarannya di berbagai masjid, begitu juga di Rumah-rumah
suci lain dengan bersungguh-sungguh agar sampai kepada setiap warga bumi
dimanapun berada. Kesadaran perlunya menanggulangi kerusakan yang ditimbulkan perbuatan
tangan manusia di muka bumi, yang telah menimbulkan pencemaran lingkungan hidup
dan perubahan iklim berakibat malapetaka, menjadi “tugas suci” setiap anak Adam
yang ditakdirkan hidup di permukaan bumi apapun keyakinan yang dimiliki olehnya.
Kedatangan Makhluk
Setelah permukaan bumi mendingin
dari pijaran bola api yang amat panas, tumbuh-tumbuhan diperkirakan tiba di
bumi pada sekitar 430 juta tahun silam. Dengan telah hadirnya beragam tumbuhan yang
menyediakan bermacam pangan, binatang kemudian datang menyusul ke muka bumi
ditaksir mulai dari 75 juta tahun terakhir, disusul kera yang menyerupai orang sekitar
10 juta tahun silam, dan makhluk paling belakangan dari semuanya tiba di permukaan
bumi ialah manusia ditaksir sekitar 300.000 tahun terakhir. Demikianlah hasil temuan
para ilmuwan yang mengkaji kedatangan beragam makhluk ke permukaan bumi dari
sudut pandang evolusi yang sudah berkembang sejauh ini.
Tidak dapat disangkal, Allah Subhanahu Wataala telah
menjadikan TMH kimia organik suhu tubuh (rendah) digunakan untuk menghadirkan
beragam makhluk hidup di permukaan bumi, seperti: tanaman, hewan, dan manusia
memanfaatkan bermacam unsur kimia tercantum dalam tabel Mendeleyev, dengan air menjadi
unsur kimia yang terbanyak, sekitar 70% berat tubuh insan. Dengan TMH, makhluk apapun
yang terlahir di muka bumi akan memperoleh pangan diperluka, tidak terkecuali bermacam
kebutuhan hidup lainnya menempuh “perjalanan kedua”, yakni kehidupan alam fana di muka bumi, sejak lahir dari kandungan
hingga akhir hayat, dibantu panas dan cahaya yang dating langsung dari
matahari. Selain dari itu, TMH juga menyiapkan serangkaian teknologi daur ulang
yang dibutuhkan untuk menanggulangi pencemaran ling-kungan hidup yang timbul,
ketika beragam makhluk yang telah menyelesaikan perjalanan hidup alam fana di
permukaan bumi mengembalikan benda (materi) pinjaman di penghujung hayat.
Perlu difahami, TMH ciptaan Ilahi juga memperkenalkan
peredaran unsur kimia yang menjadi-kan tubuh atau jasmani bermacam makhluk yang
menempuh “perjalanan kedua”. Pertama,
bumi meminjamkan bermacam unsur kimia yang dibutuhkan tubuh atau jasmani beragam
makhluk, seperti: tanaman, hewan, dan manusia, yang diperoleh dari kerak bumi galian
dangkal, sekitar puluhan meter. Kedua,
tubuh atau jasmani yang sudah ditinggalkan ruh makhluk yang telah menempuh “perjalanan
kedua”, dikembalikan ke bumi lewat: pemakaman, penenggelaman, pembiaran yang segera
didaur ulang oleh bermiliard bakteri sebagai pemangsa (predator), me-nyebakan
jasad yang dikembalikan cepat terurai menjadi berbagai unsur kimia asal
sebagaimana yang tertera dalam table periodik, agar kemudian dapat dipinjamkan
kembali kepa-da bermacam makhluk yang akan menjalani hidup alam fana di permukaan
bumi, seperti: tumbuhan, hewan, dan manusia baru yang akan lahir. Terhadap yang
dikremasi, predator digunakan ialah nyala api yang membakar. Ketiga, TMH menggunakan reaksi kimia
organik, lawan dari reaksi kimia an-organik, yaitu “cara dingin” menghadirkan
beragam makhluk untuk hidup di alam fana di permu-kaan bumi, mulai dari
kandungan, bayi, balita, anak, remaja, dewasa, orang tua, kakek/nenek,
menjalani usia senja, dan tiba di akhir
hayat; tidak terkecuali kemandirian dimiliki
tiap makhluk, antara lain: kepribadian, kecerdasan, watak, dan lain sebagainya yang
kini masih belum banyak terungkap kepada insan gemar berfikir hingga saat ini.
Penduduk Bumi
Hingga saat
ini penduduk bumi terus bertambah jumlahnya menelusuri perjalanan waktu. Pada saat
Nabi Muhammad SAW menerima Surat Al-Alaq, diantar Malaikat Jibril tanggal: 6
Agustus Tahun 610 M (Masehi) di Gua Hira silam, jumlah insan berdiam di muka bumi
ditaksir berjumlah 200.000.000 orang. Setelah 1150 tahun waktu berlalu, lebih
dari satu Milenium menjelang dimulainya “revolusi industri” di Eropa silam,
warga bumi telah meningkat menjadi 720.000.000 orang, dengan pertumbuhan rata-rata
penduduk: 452.000 orang setiap tahun. Lalu pada tahun 1850 M, banyaknya manusia
yang berdiam di muka bumi telah meningkat menjadi 1.200.000.000 (satu Miliar
dua ratus juta) orang. Lalu pada tahun 1950 M, seratus tahun kemu-dian, manusia
yang mendiami planit biru telah mencapai 2.500.000.000 orang, dengan partum-buhan
rata-rata penduduk: 13.000.000 orang per tahun. Dari apa yang telah diuraikan diatas,
tampak jelas adanya “perubahan” kenaikan rata-rata penduduk dalam rentang waktu
satu milenium, dari: 0,452 juta orang per tahun, menjadi: 13 juta orang per
tahun pada rentang waktu seratus tahun kemudian. Peningkatan pertumbuhan rata-rata
penduduk mencolok, dari “hampir landai” menjadi “hampir tegak”, tidak diragukan
lagi disebabkan oleh timbulnya “revolusi indus-tri” melanda dunia berlangsung
lebih dari dua setengah abad, dan memberi begitu banyak kemudahan hidup yang didapat
manusia menempuh “perjalanan kedua”,
yaitu kehidupan alam fana di permukaan bumi dibandingkan dengan berbagai zaman yang
telah mendahului. Pada tahun 2000 M silam warga bumi telah melebihi 6 Miliar
orang, lalu pada tahun 2011 M men-capai 7 Miliar orang. Ramalan kedepan memperlihatkan
pada tahun 2025 M warga bumi akan ber-jumlah 8 Miliar orang, dan pada tahun
2043 M mencapai 9 Miliar orang, kemudian mema-suki abad pertama Milenium ketiga
akan melebihi 10 Milyar orang. Grafik dibawah ini memper-lihatkan perjalanan
penduduk bumi melalui kurva yang dikerjakan oleh Google.
Sumber: Google
Sekilas Sejarah Filsafat
1. Filsafat Islam di Timur Tengah.
Agama
yang dibawa Nabi Muhammad SAW mengantarkan umat Muslim mendirikan kekhali-fahan
Islam di jazirah Arab dalam abad ke-7 Masehi, dan meluaskan pengaruhnya ke sejumlah
kawasan sekitar. Sebagai akibatnya, pertemuan dengan berbagai budaya yang telah
lebih dahulu ada di wilayah itu tidak dapat dihindarkan. Lahir “ilmu kalam” yang
bertujuan menyampaikan ajaran agama baru lebih praktis kepada umat Muslim,
melahirkan apa yang kemudian dikenal dengan: theologi Islam. Menyusul muncul ilmu
Fiqih, Ilmu Tasauf, Filsafat Islam, dan yang akhir ini mengajarkan: perdebatan,
dialektika, dan argumentasi, bersama lainnya untuk mengolah akal. Filsafat Islam
lalu berurusan dengan beragam hal berkaitan dengan kehidupan, sepert: alam
fana, Alam Semesta, nilai, etika, masyarakat, dan lain sebagainya, lalu dihimpun
secara beratu-ran untuk umat Muslim. Orang-orang Islam lalu tertarik kepada
filsafat Yunani, setidaknya pada masa awal abad hijrah, karena dalam keyakinan
orang-orang Muslim ketika itu, Allah ialah Pen-cipta dari segalanya, dan ilmu
pengetahuan diturunkan lalu disebarkan ke Alam Semesta bertu-juan tidak lain untuk
mengantarkan umat ke pemahaman yang lebih dalam tentang Dia, dan segala apa yang
diciptakanNya.
Tidak lama sesudah kekhalifahan Islam
melebarkan sayapnya yang pertama, Bani Abbasyiah memerintahkan rakyatnya menghimpun
seluruh manuskrip Yunani yang beredar untuk mening-katkan citra. Sebilangan
filosof Muslim kemudian menjadi terkemuka Timur Tengah sejak dari saat
bersejarah itu, antara lain: Al-Kindi, Al-Farabi, Ibnu Sina, Al-Gazali, Ibnu
Bajah, Ibnu Thufail, dan Ibnu Rusyd. Sejak dari abad ke-9 Masehi, kekhalifahan
Al-Makmun berikut penerusnya, menjadi giat memperkenalkan filsafat Yunani kedalam
masyarakat muslim di bumi bangsa Arab.
Setelah kekhalifahan Bani Abbasyiah
turun dari singgasana tahun 750 dari Damaskus, di Kor-doba muncul Bani Umayyah
membangun kekhalifahan di semenanjng Iberia, dan kala itu lebih dikenal dengan nama Andalusia dari
tahun 929 hingga 1031 Masehi, tidak terkecuali ujung Utara benua Afrika waktu
itu. Masa kekhalifahan dengan ibukota Kordoba itu, ditandai oleh kemajuan
perdagangan dan budaya dari kedua tepi Laut Tengah, masing-masing bagian Timur di
seputar: Yunani, Turki, Jazirah Arab, dan lainnya, dengan semenanjung Iberia, yang
kini lebih dikenal dengan Eropa Barat: Portugal, Spanyol, Perancis, dan
lainnya. Sejumlah bangunan ternama lagi megah yang didirikan oleh kekhalifahan Umayyah
silam, masih dapat disaksikan di Spanyol saat ini, antara lain: Mesjid Agung
Kordoba dan istana, dan didirikan masih
pada
zaman keemasan Bani Umayyah tersebut.
Dalam zaman kekhalifahan Bani Umayyah, Laut Tengah juga
bernama Laut Mediterrania merupakan jalan-air sekaligus urat nadi perdagangan
dan pengantar budaya dari kedua sisi Laut Tengah, karena jalan darat di pesisir
Utara maupun Selatan Laut Tengah masih terbatas pada kafilah yang berjalan kaki dan kereta hela kuda
atau ternak peliharaan lain yang sangat terbatas jangkauannya. Demikian juga
hubungan perdagangan dan budaya antara semenanjung Iberia dengan negara-negara
yang berada di daratan Eropa Barat, seperti: Perancis, Inggris, Belanda,
Jerman, dan lainnya. Jalan-air samudra Atlantik terhindar dari kebekuan oleh
lapisan es di mu-sim dingin, tidak lain berkat arus bawah laut teluk Meksiko yang
hangat mengalir sampai jauh ke Utara yang sangat terkenal itu. Jalan-air samudra
Atlantik telah berjasa besar mengembangkan perdgangan dan hubungan budaya antara
semenanjung Iberia dengan kawasan Eropa Barat, sedangkan jalan-air Laut Tengah
atau Laut Mediterrania berjasa mengembangkan tidak saja per-dagangan, tetapi pula
mengantarkan beragam pengetahuan dan budaya dari seputar: Yunani, Turki,
Jazirah Arab, bahkan dari Persia dan India, serta lainnya ke Eropa Barat yang berhasil
dihimpun dan diolah para pemikir Arab menjelang renaissance (pencerahan) bersemi
di daratan Eropa Barat silam.
Perhatian umat Islam kepada filsafat dan ilmu
pengetahuan terus berkembang dibawah kepe-mimpinan Bani Umayyah ke-5, yang dikenal
bernama: Muhammad ibn Abdurrahman (832-886 M). Pada ketika itu para pemikir dan ilmuwan dari dunia Islam bukan lagi
mereka yang tergolong kedalam kelompok Muslim orthodox. Mereka bersama kaum
bukan-Muslim lain ambil bagian dalam menyebarluaskan hasil pemikiran: Yunani,
Hindu, dan masa praIslam lainnya, lewat jalur kekerabatan dan persahabatan dengan
umat Khristiani yang bermukim di Eropa. Mereka bersamasama menjadikan hasil
pemikiran Aristoteles kembali dikenal oleh masyarakat Khristiani di Eropa,
setelah lama hilang dari perbendaharaan ingatan mereka. Adapun para pemikir
Islam yang amat tersohor pada ketika itu yang dapat diketengahkan, antara lain:
Al-Farabi, Ibnu Sina, dan Al-Kindi. Ketiga filosof yang disebutkan akhir ini
telah lama memper-kenalkan pemikiran: Aristoteles, Neoplatonis, dan lainya
kedalam masyarakat Islam di Timur Tengah. Banyak kalangan saat itu yang
menganggap mereka bukan lagi tergolong kedalam orang Islam orthodox, bahkan ada
pula yang menyangka mereka bukan filosof Islam menyimak tulisan yang mereka
kerjakan. Dibawah disampaikan sekelumit tentang para filosof Islam yang terkemuka
pada zamannya.
Al-Kindi (801-873)
seorang bangsa Arab keturunan suku Kinda, filosof peletak dasar filsafat Islam,
lahir di Basra, Irak. Setelah menammatkan sekolah dasar di tempat kelahirannya,
lalu meneruskan pendidikan ke Bagdad, mempelajari berbagai macam pengetahuan,
seperti: mathe-matika, fisika, mistik, dan seni; tidak terkecuali juga lainnya.
Ia berjasa memperkenalkan pengetahuan filsafat ke dunia Islam di Timur Tengah.
Al-Kindi kemudian menjadi cepat terkenal di lingkungan “Rumah Kebijakan”, demikian
juga kalangan kekhalifahan Abbassyiah, sehingga yang akhir ini menugaskannya menjadi
pengawas penterjemahan bermacam naskah ilmu pengetahuan dan filsafat dari
bahasa Yunani kedalam bahasa Arab. Ia
tergolong ilmuwan Arab yang banyak meninggalkan
karya tulis meliputi: metafisika, etika, logika, psikhologi, pengo-batan,
pharmakologi, mathematik, astronomi, astrologi, optik. Al-Kindi juga orang yang
menggemari permasalahan: meteorologi, gempa bumi, dan banyak lagi lainnya yang
membumi pada masanya.
Al-Ash'arÄ« (874–936) ialah seorang ilmuwan dan juga theolog Islam dari
Timur Tengah ber- nama Al-Ash'arī.
Ia lahir di Basra, dan masih keturunan dari salah seorang sahabat dekat nabi
Muhammad SAW silam. Sebagai seorang muda, ia awalnya berguru kepada Al-Jubba’i,
sebuah perguruan theologi Islam dan filsafat Mu’tazilah terkemuka pada ketika
itu. Dan perguruan ini tidak lain dari sebuah “sekolah theologi” yang berlandaskan
akal (reasning), yakni hasil pemikiran manusia bersifat logis (rational) dan sangat
terkenal pada masa itu. Ia mengamalkan ajaran Mu’tazilah dengan penuh kesetiaan
sampai usianya empat puluh tahun. Kemudian, pada suatu saat dalam bulan
Ramadan, ia bermimpi bertemu dengan nabi Muhammad SAW. Mimpi yang sama ternyata
berlanjut hingga tiga malam berturut-turut, dan memintanya untuk kembali
padanya, yakni mengikui tradisi hadis. Sejak dari saat bersejarah itu, Al-Ash'arī lalu mening-galkan ajaran
Mu’tazilah, dan berganti menjadi penentang utama ajaran yang semula di-anutnya dengan
setia itu. Segala pengetahuan filsafat yang dikuasainya lalu dikerahkan untuk melawan
ajaran, yang sebelumnya dengan setia dibelanya. Karena pengaruhnya yang sangat besar
di Timur Tengah pada ketika itu, umat Islam menjadikan Al-Ash'ari seorang peletak dasar akidah sunni Ash’ari yang amat berpengaruh
luas, bahkan Imam Al-Ghazali yang amat tersohor dengan empat kitab “Ihya Ulum ul-Addin”
(Menghidupkan kembali ilmu-ilmu agama) yang ditulisnya, juga menjadi pengikut
setia darinya.
Ibnu
Sina
(980-1037) adalah seorang ilmuwan bangsa Arab lain yang menguasai beragam
bidang ilmu pengetahuan, antara lain: filsafat, astronomi, kimia, geologi,
psikhologi, theologi Islam, logika, mathematika, fisika, tidak terkecuali menulis
sajak, sebagaimana yang kebanyakan dilakukan para ilmuan Arab di Timur Tengah ketika
itu. Akan tetapi hasil karya yang melam-bungkan namanya di dunia, ialah yang
menyangkut penyembuhan penyakit.
Buku induk pe-nyembuhan yang dibuatnya
tentang pengobatan beragam penyakit, menjadi kitab induk dua universitas ternama
di Eropa ketika itu, yakni Montpellier dan Leuvant dari Perancis hingga tahun
1650 M.
Al-Ghazali (1058–1111)
adalah theolog Islam dari Persia, penggemar hukum Islam, juga fil-safat, tidak
terkecuali mistik. Ia menjadi seorang Muslim yang sangat berpengaruh di dunia
Islam setelah wafarnya Nabi Muhammad SAW. Dalam dunia Islam, ia tergolong
seorang pembaharu (mujaddid) keimanan Islam dari masanya, dan menurut tradisi
keagamaan yang dipercaya masyarakat di Timur Tengah, orang seperti dia akan datang
ke dunia sekali dalam seratus tahun. Hasil karya Al-Ghazali mendapat
penghargaan yang sangat tinggi dari kalangan umat Islam yang sezaman, menyebabkannya
mendapat gelar kehormatan: “bukti Islam”. Yang lain menuduhnya lawan dari aliran
Islam berpandangan Neoplatonis yang pengikutnya juga juga banyak ketika itu,
juga mereka yang berpandangan helenistik. Al-Ghazali juga berhasil mengem-balikan
pengaruh kaum Islam orthodox yang masih terus mengamalkan ajaran Sufi yang
mereka jalankan sebelumnya.
Al-Farabi (1165-1240) seorang sufi bangsa Arab
dari Andalusia, juga seorang sufi mistik, dan seorang filosof. Ia menguasai banyak
bidang ilmu pengetahuan, seperti: logika, penyembuhan, sosiologi, termasuk
analisa posteriori dari Aristoteles. Lewat beragam naskah tulisan dan ko-mentar
yang disampaikan, Al-Farabi kemudian menjadi tersohor dikalangan umat Muslim di
Timur Tengah. Masyarakat intelektual abad pertengahan ketika itu menganugerahkannya
gelar: “Guru Kedua”, sebagai penerus setia ajaran Aristoteles dari Yunani, dimana
yang disebut akhir ini ialah: “Guru Pertama”nya. Al-Farabi menghabiskan
sebagian besar masa hidupnya bermukim dan bekerja di kota Bagdad.
Ibnu
Rushd
(1126-1198) seorang kelahiran Kordoba Spanyol dan wafat di Marrakesh Maroko. Ia
seorang berasal dari bumi Andalusia, seorang Muslim yang berpengetahuan amat
luas meli-puti: filsafat Aristoteles, filsafat Islam, theologi Islam, hukum
Maliki berikut yurisprudensinya, logika, psikhologi, politik dan theori klasik
seni musik Andalusia, pengobatan, astronomi, geo-grafi, mathematik, tidak
terkecuali mekanika gerakan benda langit di angkasa luar. Ibnu Rushd juga
dikenal sebagai peletak dasar "filsafat sekular" yang kini dianut orang
secara luas di benua Eropa dan berbagai bagian dunia lain. Ia menjadi seorang
setia membela filsafat Aristoteles, meski berseberangan dengan theologi yang dikembangkan
Ash’ari sesudah bermimpi bertemu dengan Nabi Muhammad SAW yang didukung oleh Imam
Al-Ghazali.
Dari
bumi Andalusia (Spanyol), karya filsafat yang dikembangkan cendekiawan bangsa
Arab lalu diterjemahkan orang kedalam bahasa Yahudi dan bahasa Latin, dan
dibawa ke Eropa untuk mengembangkan filsafat modern di bagian dunia itu. Dikalangan
para filosof Arab pada masa itu, terdapat Maimodes seorang Yahudi yang hidup
dan bekerja di kalangan Muslim Spanyol, juga ambil bagian dalam menterjemahkan
karya filsafat Islam dari bahasa Arab ke berbagai bahasa lainnya. Terdapat juga
seorang kelahiran Tunisia asal Andalusia bernama Ibnu Khaldun dari kalangan
ilmuwan Muslim ketika itu, yang kemudian menjadi peletak dasar ilmu kema-syarakatan
kini dikenal dengan istilah sosiologi dan histerografi (hysterography), ialah
ilmuwan Arab penting lain terkemuka ketika itu, meski ia tidak menyebut diri sebagai
seorang filosof, tetapi seorang penulis kalam saja.
Dalam
abad pertengahan dari abad ke-5 hingga abad ke-15, runtuhnya kekaisaran Romawi,
dan berpisahnya Gereja Latin Barat
dipimpin Bishop dari Roma dengan Gereja Orthodox Timur pimpinan Patriarch dari
Konstantinopel pada tahun 451, telah lama hilang dari ingatan orang banyak,
tidak terkecuali kecakapan membaca dan menulis dengan abjad Yunani. Akan
tetapi, kedatangan filsafat Yunani yang diperkenalkan kembali ke Eropa, hasil terjemahan
dari bahasa Arab ke bahasa Latin dan bahasa Yahudi berikut sejumlah catatan dan
keterangan yang dikerjakan para pemikir Arab, membawa pengaruh besar kepada
filsafat yang kembali muncul dan berkembang di Eropa daratan ketika itu, dan dampaknya
jauh hingga memasuki zaman renaissance (kembali ke zaman Yunani kuno) di bagian
dunia itu dalam abad pertengahan lalu.
2. Filsafat
Islam di Asia Tenggara.
Setelah
muncul di jazirah Arab dan berkembang di Timur Tengah dan sekitarnya, agama
Islam kemudian melebarkan sayap ke Asia, tidak terkecuali Asia Tenggara, diantarkan
para mubaligh dan kaum pedagang. Ada mereka yang datang dari Mekah, ada pula yang
datang dari Gujarat (India), lainnya berangkat dari Persia, dan berbagai tempat
lain. Lalu muncul Kesultanan Islam di kawasan Asia Tenggara, berikut perlembagaan
Islam, antara lain: pemerintahan, pendidikan, kehidupan, kesusastraan, kesenian;
tidak terkecuali perekonomian rcorak Islam.
At time when Ibn Battuta a Maroccon
traveler paid visit to a country named: Samudera Pasai Sultanate in the South East Asian region in 1345, he met a solemn
King from the Al-Shafi’i mazhab (Islamic law dotrine) was ruling the country.
The Sultanate established by located
on the north Perlak, now area of (east cost of Aceh), adjacent directly to the
strait Malacca; governed the country until 1297. The King later converted to
Islam called in Arabic as. It was
then clear, that the school of thought of Imam Al-Shafi’i supported by Imam
Al-Ghazali already been spread over South East Asian region on entering the 13
th century.
Pada
waktu Ibnu Batutah (1304–1368),
pengelana asal Maroko singgah di suatu negeri yang bernama: Kesultanan Samudra
Pasai di Asia Tenggara tahun 1345 silam, ia berjumpa dengan se-orang Muslim
saleh mazhab Al-Shafi’i yang menjadi Sultan di Samudra Pasai. Kesultanan itu
didirikan oleh Meurah Silu tahun 1267, memerintah
sampai tahun 1297, terletak di Utara Perlak kini termasuk wilayah Lhok Seumawe,
Aceh Timur, terdapat langsung ditepi Selat Malaka. Sultan lalu masuk Islam dan memperoleh nama
Arab: Malik
ul-Saleh, atau Sultan as-Saleh. Dengan demikian tampak jelas ajaran Imam Ash’ari yang
didukung Imam Al-Ghazali telah menyebarkan mazhab sunni Ash’ari ke kawasan Asia Tenggara memasuki abad
ke-13 Masehi.
Kesejahteraan Umat
a.
Sistim Ekonomi Bebas, atau Liberal
Dalam zaman
merkantilis di Inggris silam, setiap orang boleh mejalankan beragam usaha
(business) untuk mencari nafkah, mulai menghasilkan beragam barang (produk), hingga menye-diakan layanan bermacam jasa (service),
atau keduanya, dalam memenuhi permintaan segala macam lapisan masyarakat. Semuanya
diperdagangkan orang di pasar-pasar yang terdapat di-mana-mana. Lalu muncul persaingan
diantara para penyedia barang atau jasa, atau keduanya oleh “tangan-tangan
tersembunyi” (invisible hands), dengan harga (price) dan mutu (kualitas) barang
atau jasa dihasilkan dalam jumlah (kuantity) dan penyerahan (delivery) barang
atau jasa terikat dalam kesepakatan dagang (contract). Pendapatan kaum pengusaha
ditentukan oleh banyak barang dan jasa yang terjual dalam setahun. Pemerintah hanya
bertugas sebagai pengawas dan pengatur tatausaha (administrator) yang
melancarkan kegiatan dagang, dan samasekali tidak mencampuri urusan para pengusaha
menghasilkan barang atau jasa, akan tetapi menyediakan tempat berusaha dengan
perangkat aturan dan lingkungan: ekonomi, sosial, budaya, dan politik yang sama
untuk semua, terhadap pungutan (pajak) dikenakan.
Memasuki abad
pencerahan, dibekali filsafat dan beragam ilmu pengetahuan yang diolah dan
diantarkan bangsa Arab dari Timur Tengah, landasan berfikir kaum intelektual orang-orang
Eropa lalu berkembang sedemikian jauh, yang memungkinkan mereka mengembangkan
berma-cam pengetahuan “tepat guna” di berbagai bagian dunia itu. Ini tampak
jelas dengan diguna-kannya “analisa ilmu” scientific analysis) untuk mengembangkan
mesin-uap, awalnya dipicu pompa air vakum udara yang diperkenalkan Thomas
Savery (1650-1715) dari Inggris, dengan menyiram air dingin kedalam bejana
berisi uap bertekanan, lalu diperbaiki Thomas Newcomen (1664-1729) rekan
senegaranya mengganti bejana dengan silinder berpengisap, untuk tujuan yang
sama. James Watt (1736-1819) rekan senegara lain memanfaatkan kedua temuan
rekannya menciptakan “sumber tenaga
gerak” (source of mechanical energy) pertama di dunia memanfaatkan tekanan uap yang
banyak diperlukan orang untuk menggerakkan beragam industri saat itu. Ketiga
orang Inggris ini berhasil merobohkan kartu: "domino teknologi” pertama di
muka bumi, memperkenalkan sumber tenaga alam hasil rekayasa akal-budi manusia,
sekaligus membidani “revolusi industri” di muka bumi yang dimulai dari Eropa,
lebih dari dua abad silam.
“Analisa ilmu” yang
dikuasai segelintir bangsa di Eropa ketika itu, kemudian diperluas ruang
lingkup kajiannya, tidak terbatas pada sumber tenaga gerak dan industri yang telah dilahirkan-nya, tetapi juga ke bidang-bidang
kegiatan lain, antara lain: politik, sosial, ekonomi, dan lain, berpuncak pada kajian “Kesejahteraan Hidup
Beragam Bangsa” di muka bumi sebagaimana yang disampaikan Adam Smith dari
Inggris. Akan tetapi yang jelas, pengaruhnya telah membuat “sistim ekonomi
merkantilis”, beralih menjadi “sistim ekonomi kapitalis” di Inggris, dan sejumlah
negara Eropa lainnya saat itu, yang lalu dikenal dengan “kapitalisme”, karena
memperoleh amunisi dari perkembangan revolusi industri yang melaju pesat. Adam
Smith kemudian melanjutkan kajiannya dengan: “Memperbaiki Keadaan Dunia”, yang
lalu menimbul-kan pertanyaan: apakah industrialisasi akan menyejahterakan
kehidupan umat di bumi, ditilik dari angka harapan hidup manusia, jam kerja
singkat, dan pertanyaan apakah anak-anak dan orang-orang tua dapat dibebaskan dari
kewajiban bekerja mencari nafkah?
Sejak awal revolusi
industri, kapitalisme berkembang pesat di Eropa didukung kemajuan ilmu
pengetahuan dan teknologi telah terhimpun dan berkembang pesat di bagian dunia
itu. Mobil dengan cepat menggantikan kereta hela ternak di jalan-jalan raya berbagai
negara, diawali dari Eropa, kemudian menyebar ke Amerika Utara, lalu Jepang,
dan bagian dunia lainnya. Angkutan jalan-baja dihela lokomotif-uap membakar
batubara melahirkan kereta-api, lalu menebar jaringan ke berbagai negara di Eropa
melayani angkutan penumpang dan barang, lalu diexport ke berbagai negara seberang
lautan, tidak terkecuali Asia, oleh “ongkos angkut” muatan: penumpang dan
barang yang murah. Transportasi air juga ikut berkembang, mulai dari: kanal,
sungai, danau, laut, hingga samudra yang selama ini dikuasai kapal layar,
digantikan mesin-uap karena dapat diandalkan ketimbang hembusan angin; kini telah
pula diambil alih mesin diesel. Keberhasilan Wright bersaudara dari Amerika
Serikat menciptakan “kapal terbang”, sekarang disebut pesawatterbang, memungkinkan
dikemkembangkannya angkutan udara menerobos atmosfer bumi untuk memindahkan
penumpang dan barang lebih cepat melintasi pulau, benua, dan keduanya. Selain
berbagai industri dan sarana angkutan yang telah dikemukakan sebelumnya, sumber
tenaga gerak hasil rekayasa akal-budi manusia ini telah pula melahirkan tak terbilang
banyak pabrik dan industri berikut keragamannya bermunculan di muka bumi,
antara lain: pabrik semen, industri baja, pabrik pengolahan logam, tambang
batubara, tambang berbagai macam mineral, pengeboran minyak termasuk kilang
pengolahan minyak mulai daratan hingga lepas pantai, industri: plastik, bahan
bangunan, kimia, pharmasi, kertas, makanan dalam kema-san; dan masih banyak
lagi lainnya.
Dalam perjalanan
waktu, kapitalisme berkembang pula menjadi imperialisme, karena menguasai lahan
yang semakin luas di muka bumi, yang berubah menjadi tanah jajahan atau koloni.
Kolonialisme lalu melanda dunia, dan menguasai tanah subur yang diubah menjadi perkebunan
tanaman ekonom yang beraneka ragam, antara lain: karet, kelapa sawit, tembakau,
gula, dan lain sebagainya; untuk menghasilkan ban kendaraan bermotor, minyak
goreng dan lainnya, rokok, gula tebu, dan lain sebagainya yang diperlukan pasar
dunia. Penggalian tambang seperti: batubara, minyak bumi, gas dan lainnya di
tanah jajahan diperlukan untuk memasok keperluan industri yang cepat berkembang
di: Eropa, Amerika Utara, Jepang, yang lapar bahan-baku, da-haga bahan-bakar dan
minyak lumas, berlanjut jauh menerobos masuk kedalam abad ke-20 silam.
Sejak awal dari revolusi
industri, kapitalisme telah berhasil mendirikan beragam industri: mulai ringan hingga
berat dan sangat berat di berbagai negara beragam belahan bumi. Sebagai
akibatnya, tidak dapat dihindarkan munculnya aliran benda (materi) dari dalam
perut bumi menuju permukaan, berupa: bahan-bakar (batu-bara, minyak bumi, dan
gas), berjenis mineral berguna (biji besi untuk membuat besi dan baja, tembaga,
aluminium, logam mulia, dan lainnya); dan masih banyak lagi yang lain.
Bahan-bahan ini dibutuhkan negara-negara yang memproduksi beragam barang,
seperti: sarana dan prasarana angkutan: darat, laut, udara, antariksa; menyedia-kan
perlengkapan perang dan peralatan militer termasuk mesin dan peralatan tempur serta
ar- mada kapal perang laut, dan skwadron pesawat tempur, serta masih banyak
lagi kebutuhan negara dan masyarakat mulai dari lokal hingga dengan global.
Juga industri penyedia minuman dan makanan kemasan, industri texstil, industri
pertanian, industri peternakan dan perikanan, dan banyak lainnya. Aliran benda
(materi) dari dalam perut bumi menuju permukaan ini sudah mulai sejak awal dimulainya
revolusi industri di muka bumi lebih dari dua abad yang silam, dan masih berlangsung sampai dengan hari ini, dan berlanjut
terus ke masa akan datang; kini dikenal dengan nama: “aliran benda” (materi)”.
Selain kepiawaian menghasilkan
beragam barang atau jasa menurut: harga, mutu, jumlah, dan waktu penyerahan yang
disepakati dalam perjanjian (kontrak); masalah yang timbul dari kehadiran
kapitalisme saati ini di muka bumi: pertama
limbah-gas hasil pembakaran bahan-bakar (padat, cair, dan gas) terus menerus
dihamburkan menuju ke atmosfer planet biru oleh beragam sarana angkutan: darat,
laut, dan udara, mengganggu pernafasan; kedua
limbah-cair beragam rumah tangga
dari tidak terkecuali asal rumah-tangga dari kota kecil besar hingga besar yang
ada di muka di bumi mulai desa, kota kecil hingga kota besar dibuang menuju ke badan-air
d muka bumi. Begitu juga cairan buangan beragam industri, tambang, kilang, kegiatan
koperasi ekonomi masyarakat, dan lainnya., dibuang begiu saja menuju badan-air
(parit, kolam, kanal, sungai, danau, laut, hingga samudra), mencemari minunan
dan makanan umat, tidak terkecuali makhluk lain yang menimbulkan gangguan
kesehatan, mulai lahir (fisik) hingga bathin (mental); ketiga: limbah-padat rongsokan beragam sarana angkutan (darat,
laut, udara, dan lainnya) hasil buatan bermacam industri yang telah habis masa
pakai ekonominya. Juga sarana dan prasarana beragam industri, aneka ragam tambang,
instalasi pengeboran minyak dari darat hingga lepas pantai; bangkai bermacam peralatan
elektronik dan teknik digital termasuk jutaan gadget dan lain sebagainya yang
telah ketinggalan zaman dan kalah mutakhir tidak lagi digunakan. Juga tidak
terkecuali pula bermacam perabotan dan perlengkapan rumah tangga bikinan
industri yang tidak lagi diinginkan, diterlantarkan begitu saja dimana-mna di
muka bumi menyita lahan dimana-mana. Sejak dari awal revolusi industri di Eropa
silam, ketiga golongan limbah ini semuanya berasal dari “aliran benda (materi)”
meninggalkan perut bumi menuju permukaan planit biru yang tidak pernah berhenti barang sedetik, dan
terus mengalir hingga dengan hari ini.
Tidak dapat disangkal
lagi, kini “aliran benda (materi)” yang meninggalkan perut bumi menuju
permukaan semakin besar jumlahnya dalam “juta metric-ton”, mengikuti
pertumbuhan penduduk bumi yang terus meningkat, termasuk aktivitas dan kreativitas
yang mereka lakukan selama hayat di muka bumi, bagai bola salju yang sedang menggelinding
di lereng gunung Alpen di Eropa selama
musim dingin. Selain dari itu, kapitalisme juga semakin mengendalikan dan menguasai
perekonomian manusia dunia. Kaum kapitalis juga semakian bersaing dalam mendapatkan
bermacam benda (materi) berharga yang mereka butuhkan dari dalam perut bumi,
baik yang ada di negerinya sendiri demikian juga yang diperoleh dari diluar Tanah-Airnya,
menyebabkan ekosistim di muka bumi semkian tidak mudah dipelihara
kelestariannya. Selain dari itu kapitalisme banyak berpengalaman dalam bidang
menghasilkan barang industri atau komoditi didukung SDM bermutu dan sumber dana
alam global, menyebabkan lingkungan hidup di muka bumi, terutama di dunia
ketiga yang kurang pengetahuan dan lemah pengawasan, tidak dapat terhindar dari
exploitasi SDA berlebihan dalam memenuhi permintaan pasar global.
Kini kapitalisme
harus mencari jalan, agar “aliran benda (materi)” dari dalam perut bumi menu-ju
permukaan tidak lagi berakhir menjadi: 1. “limbah-gas” yang mencemari udara
atmosfer menyelimuti bumi yang
mengganggu pernafasan, 2. limbah-cair dari pemanfaatan air-bersih dalam segala
bidang kehidupan, usaha, dan industri tidak lagi mencemari badan-air di muka
bumi, dan 3. limbah-padat rongsokan bermacam produk industri hasil ciptaan dan
kreasi manusia tidak lagi diterlantarkan orang dimanamana menyita lahan di muka
bumi. Harus dicarikan jalan keluar, agar aliran bahan dari dalam perut bumi
menuju permukaan tidak melahirkan pencemaran: mulai yang biasa, yang berbahaya,
apalagi pencemar yang sangat berbahaya terhadap makhluk hidup;
menghindarkannya memasuki tubuh manusia atau makhluk lainnya melalui: minum,
makan, bernafas, dan kegiatan sehari-hari, sehingga gang-guan lahir (fisik), antara
lain: tidak normal bekerja atau berfungsinya berbagai organ tubuh, tidak
terkecuali dampak bathin (mental), seperti: keanehan berprilaku dalam kegiatan sehari-hari,
kelemahan berfikir, hingga dengan kehilangan ingatan dini, dan lainnya.
Salah satu gagasan yang pantas mendapat
acungan jempol untuk butir pertama, ialah apa yang kini tengah diujicoba dengan
penuh kesungguhan menggunakan Bahan-Bakar Hidrogen (BBH). Apa yang sedang diusahakan
orang di muka bumi, ialah hijrah dari “ekonomi bahan-bakar fossil” (fossil-fuel
economy) menuju “ekonomi bahan-bakar hidrogen” (hydrogen-fuel economy) untuk angkutan
darat, sehingga gas hasil pembakaran yang muncul dalam mesin, dalam hal ini sel
bahan-bakar (fuel cell) yang menggerakkan mesin listrik hanyalah air. Gagasan
ini awalnya diperkenalkan oleh John Bockris dari Pusat Teknik General Motor,
Amerika Serikat, pada suatu pembahasan di tahun 1970 silam. Kemudian pada
tanggal 10 October 1997, Richard Daley, walikota Chicago dengan rekannya bepergian
dalam kota mengendarai bis yang berbahan-bakar hidrogen, unsur kimia terdapat dalam
tabel Mendeleyev terbanyak adanya di muka bumi, dipisahkan dari gas alam dengan
proses kimia. Sebuah Sel Bahan-Bakar (SBB) dapat mengubah hidrogen yang dialirkan
kedalam SBB menjadi “tenaga lisrik” dan “air”, tanpa pembakaran samasekali,
diperkenalkan oleh Ballard Power Systems (BPS) dari Vancover. SBB ternyata
“tiga kali” lebih hemat (efisien) dari pengubah “panas” menjadi “gerak” lewat
pembakaran yang digunakan orang sampai hari ini yang dikenal dengan: MPL dan
MPD.
Bagaimana efisiensi pasangan SBB
dengan mesin listrik dapat mencapai “tiga kali” lebih hemat dari MPD yang membakar
BBH? Bayangkan sebuah MPD, setelah pemantikan berlangsung, muncul gas (uap) bertekanan
dan suhu amat tinggi muncul seketika diatas pengisap (piston), dan panas
dipancarkan ke segala arah. Hanya panas kejurusan bawah bersama pengisap yang langsung
diubah menjadi gerak (mekanik). Itulah sebabnya mengapa hanya sekitar 25 %
panas yang dapat diubah menjadi gerak, sedangkan 75% lainnya terbuang percuma
memanasi mesin, terbuang bersama air pendingin, dan terbuang keluar bersama gas
buang. Akan tetapi untuk pasangan SBB
dengan mesin listrik, tidak terdapat pembakaran samasekali, sehingga 100%
“panas” langsung diubah menjadi tenaga listrik melalui reaksi kimia. Ketika tenaga
listrik digunakan dalam mesin listrik, muncul panas yang diakibatkan pengantar dialiri
arus sejumlah 25 %. Lainnya masih dalam bentuk listrik, dan itulah sebabnya
mengapa pasangan SBB dengan mesin listrik menjadi tiga kali lebih hemat (efisien)
dari sebuah MPD.
Tenaga listrik dibangkitkan dalam SBB
lalu disalurkan kedalam mesin listrik yang mengubahnya menjadi gerak untuk
menjalankan bis BPS. Gas buang yang dikeluarkan bis, dalam hal ini SBB, hanyalah
uap-air yang samasekali tidak tercemar. Sang walikota meminum segelas air yang langsung
diambil dari knalpot bis sambil berkata: “tidak jelek”. Bis dijalankan sel
bahan-bakar dapat melaju sampai kecpatan 80 km/jam, menempuh jarak 400 km atau
sehari penuh perjalanan bis untuk sekali pengisian BBH.
Untuk
butir kedua, guna menghindarkan air-kotor mengotori badan-air yang ada di muka
bumi, air-kotor yang memuat beragam pencemar perlu terlebih dahulu dialirkan kedalam
Instalasi Penjernihan Air (IPA) guna memperoleh kembali air-bersih. Hanya
air-bersih yang boleh dibuang kedalam badan-air apapun bentuknya yang ada di
muka bumi. Alam pun telah jutaan tahun memberi contoh menurunkan hujan hanya dari
air-bersih menyebabkan embun di pagi hari
menyegarkan bila disentuh. Alam juga
telah jutaan tahun memperlihatkan memisahkan beragam bahan pencemar dari
air-kotor lewat “penguapan” menggunakan panas matahari, lalu mengum-pulkannya semuanya
kedalam awan, dan setelah angin menyebarkannya kemana-mana, akhirnya setelah
mendingin dijatuhkan kembali sebagai hujan.
Perlu
dikembangkan bermacam IPA, mulai kebu-tuhan rumah tangga ukuran mini untuk desa,
kota kecil, hingga kota besar dan kawasan industri yang berukuran raksasa. Dengan
demikian, hanya air bersih yang boleh dibuang kedalam badan-air yang terdapat di
muka bumi, seperti selokan, kolam, kanal, danau, sungai, laut, hingga dengan
samudra. Perlu diketahui, lebih dari 70% berat tubuh manusia, tidak terkecuali
bermacam makhluk lain, ialah air. Itulah sebabnya mengapa manusia, demikian
juga makhluk lainnya sangat peka terhadap air tercemar; karena manakala yang
akhir ini masuk kedalam tubuh lewat aktivitas: minum, makan, dan berkegiatan,
akan dapat menyebabkan timbulnya gangguan lahir (fisik), tidak terkecali munculnya
ggangguan bathin (mental) tidak diinginkan.
Sedangkan
untuk butir ketiga, limbah-padat: rongsokan bermacam sarana angkutan (mobil,
kapal, pesawatterbang, aneka ragam mesin perang, dan lain sebagainya); begitu juga
rongsokan konstruksi baja dan lain sejensnya, tidak terkecuali instalasi
tambang dari daratan hingga lepas pantai, dan masih banyak lagi yang lain.
Memasuki milenium ketiga, muncul pula onggokan beragam benda sampah teknologi
informasi dan telekomunikasi (komputer, telepon pintar, tablet, dan lain
sebagainya) berubah menjadi limbah. Untuk menghindarkan munculnya tumpukan lim-bah
teknologi elektronik-digital (digital-electronic) diterlantarkan orang berserakan
di dimana-mana menyita lahan di muka bumi, perlu dibangun “cadangan berputar”
(spinning reseve) yang menjadi sumber “bahan baku” kebutuhan industri untuk membuat
beragam barang baru mulai yang berukuran kecil hingga dengan raksasa. Adapun
yang dimaksud dengan cadangan berputar itu tidak lain dari “Bank Bahan Baku”,
disingkat BBB (Bank of Raw Materials, disingkat BRM). Sebagaimana yang telah diteladankan
TMH (Teknologi Mahluk Hidup) menyediakan “pe-mangsa” (predator) untuk menghilangkan
makhluk yang tidak lagi bernyawa dari permukaan bumi, sebagai bagian dari rantai
makanan bertugas “mendaur ulang” beragam jasad yang telah ditinggalkan ruh agar
tidak menjadi pencema di muka bumi. Maka sejalan dengan apa yang telah dilakukan
TMH diatas, maka terhadap berbagai macam barang hasil industri bikinan manusia
apapun ragamnya, juga perlu diperlakukan dengan cara yang sama, yakni menghadirkan
“mesin pemangsa” bekerja menghancurkan berbagai rongsokan barang (produk) hasil
industri yang telah habis masa pakai ekonominya, kembali menjadi bahan
baku guna disimpan kedalam cadangan berputar atau BBB. Dengan cara daur ulang demikian rongsokan barang hasil industry bikinan
manusia tidak lagi menjadi sampah yang berserakan mencemari lahan di muka bumi.
Dengan
demikian kini perlu dihadirkan Industri Pemangsa, disingkat IP (Predator
industry, disingkat PI) dengan bermacam Mesin Pengurai, disingkat MP (Reduction
Machine, disingkat RM) di muka bumi yang bekerja mendaur ulang beragam barang
(produk) hasil industri yang telah habis masa pakai ekonominya. IP bersama
beragam MP akan menjadi pemasok bahan-baku untuk BBB digali dari tambang perkoaan
(urban mining) dimanapun adanya di muka bumi, antara lain: baja, tembaga,
aluminium, dan lain sebagainya, untuk disimpan kembali kedalam cadangan
berputar. IP akan mendatangkan lagi berjenis bahan-baku yang dibutuhkan oleh
beragam industri yang menghasilkan berjenis barang (produk) yang dibutuhkan
pasar, dihasilkan aneka ragam industry manufaktur hingga dengan beragam
kerajinan rumah tangga mulai dari kota hingga ke desa. Dengan demikian mereka yang
membutuhkan bermacam bahan-baku langsung dapat memperoleh dari BBB, sehingga
kedepan penggalian tambang langsung dari dalam perut bumi terhadap beragam mineral
asal alam perlu dibatasi untuk hanya kekurangan stok dalam BBB dengan pengawasan
ketat. Melalui penyediaan cadangan berputar dari IP di mu-ka bumi, maka ekosistim
yang telah terpelihara baik tidak lagi akan dapat dirusak dengan semena-mena
oleh orang-orang yang tidak bertanggung-jawab sebagaimana yang banyak terjadi dewasa
ini guna melindungi planit biru, satu-satunya benda langit istimewa yang ada di
Alam Semesta, kini diketahui telah memasuki berusia 4,6 Miliard tahun.
b.
Sistim Ekonomi Terpimpin, atau Diktator
Sosialisme muncul sebagai
kritik terhadap kapitalisme. Ajaran Marxis lahir dari penolakan terha-dap lahirnya
“revolusi industry” di Eropa silam. Menurut Karl Marx (1818-1883),
industrialisasi akan mengelompokkan komunitas manusia kedalam kaum borjuis
(bourgeoisie), yakni kelompok orang yang sedikit jumlahnya tetapi menguasai bermacam
alat produksi mulai tanah sampai ber-macam pabrik hingga industry yang besar
jumlahnya, dan kaum proletar (proletariat), ialah orang-orang yang tidak
memiliki apapun selain dirinya yang banyak jumlahnya melakukan pekerjaan menghasilkan
sesuatu dari setiap alat produksi yang dimiliki kaum borjuis. Marx menganggap
industrialisasi sebagai dialektika logis pelaku ekonomi kaum feodal menuju
kapita-lisme sempurna, dan yang akhir ini merupakan pendahuluan tercapainya
komunisme. Dalam sistim sosialis segala alat produksi berikut keragamannya,
juga bermacam usaha (business) adalah miliki dan dikelola Negara, dalam hal ini
dikelola pemerintah komunis dengan deologi Marksisme Leninisme. Semua warga negara bekerja
kepada negara: “memberikan kepada negara sesuai kemampuan, dan mendapat dari
negara menurut keperluan. Akan menyalahi moral sosia-lisme, manakala ada anak
bangsa menjalankan usaha (business) pribadi menghasilkan barang atau jasa atau
keduanya mempekerjakan (mengeksploitasi) rekan sebangsanya, dengan memba-yar upah (uang) kepadanya sebagai
imbalan jasa.
Sepeninggal Marx,
para pengikutnrya terbelah. Sekelompok yang berkembang di Jerman lalu meninggalkan
ajaran revolusi Perancis (1789-1799) yang menewaskan Raja Louis XVI yang tengah
bertahta di negeri itu, menimbulkan beragam terror dimana-mana di seluruh
negeri yang menyengsarakan kehidupan bangsa, mencari jalan damai untuk memperbaiki
nasib kaum buruh di daratan Eropa jalan reformasi. Kelompok lain pengikut kaum
Marxist Ortodox K. Kautsky, dipimpin
W.I.Lenin, ingin mengulangi lagi ajaran revolusi Perancis 128 tahun silam, akan
tetapi kini untuk menggulingkan Tsar Nikolas II dari singgasana di ibukota
Rusia Petrograd, berlangsung tanggal 7 Nopember 1917, dengan menggerakkan kaum
buruh negeri Beruang Merah itu. Revolusi berdarah kaum Bolshevik pimpinan W.I.
Lenin berhasil menggulingkan dan menyingkirkan Raja bersama keluarganya ke
Ekaterinburg di pedalaman Siberia. Lenin kemudian menyusun pemerintahan
diktator proletariat di Rusia didukung kaum Bolshevik yang dipimpin Partai
Komunis tunggal menguasai negara tanpa dibolehkan adanya kaum oposisi dan
kritik terhadap pemerintah yang sedang berkuasa.
Pada ketika itu,
kekaisaran Rusia sedang bergiat mengembangkan sistim ekonomi kapitalis yang bertanggungjawab terhadap kesejahteraan rakyatnya,
sebagaimana yang dilakukan banyak negeri di daratan Eropa pada saat itu, akan
tetapi dengan keberhasilan kaum Bolshevik menggulingkan Sang Tsar dari
singgasananya, “sistim ekonomi kapitalis” yang tengah berkembang pesat di
Rusia, terpaksa diganti dengan “sistim ekonomi sosialis” pertama di muka bumi sesuai
ajaran Marx, dan nama Negara pun ditukar menjadi: Uni-Sovyet. Dengan demikiann
sistim ekonomi kapitalis yang sudah dimulai Tsar Nikolas II untuk bertanggung
jawab terhadap kesejahteraan rakyat Rusia, langsung ditukar menjadi sistim
ekonomi sosialis pertama di dunia. Sistim ekonomi akhir ini kemudian
disebarluaskan ke seluruh penjuru dunia; dan pasca perang dunia ke-II menjadi wajib
diterima oleh Negara-negara yang kemudian menjadi “satelit Uni-Sovyet”, tidak
terkecuali beberapa negara dari dunia ke-III dan anggota negara-negara Non-blok
yang menaruh minat mencicipi sistim ekonomi sosialis yang menjanjikan kesejahteraan
bangsa.
Ketika negara Beruang Merah itu dilanda
kekalutan politik berat, Michail Gorbachov selaku presiden Uni Sovyet lalu memperkenankan
diselenggarakannya pemilu diseantero negeri, satu-satunya pemilu yang pernah ada
sejak berdirinya negeri Beruang Merah dengan sistim ekonomi sosialis yang dipimpin
Partai Komunis. Kemudian keluar sebagai pemenang pemilu di RFSR (Republik
Federasi Sosialis Rusia) berlangsung secara demokratis pada tanggal 26 Maret
1989, B. N. Boris Yeltsin; padahal yang
akhir ini telah menyatakan diri keluar dari Partai Komunis yang masih berkuasa
di bumi Beruang Merah itu. Rakyat di RFSR, salah satu negara bagian Uni-Sovyet yang
berbentuk federasi itu memperlhatkan jelas apa yang diinginkannya.
Setelah lebih dari tujuh
dekade mengendalikan pemerintahan di Kremlin, kantor pemerintah Uni-Sovyet di
Moskow, sosialisme atau sistim ekonomi sosialis terbukti gagal memenuhi janjinya
untuk bertanggungjawab mensejahterakan kehidupan rakyat di seantero negeri, oleh
ideologi yang sudah usang, terus saja membodohi anak bangsa dengan bermacam indoktrinasi
orthodox ketimbang mencerdaskan mereka,
membelenggu kebebasan individu dan menyatakan pendapat, serta melanggar hak
azasi manusia. Uni-Sovyet pada ketika itu, masih merupakan satu negara adidaya
dunia, pemimpin Negara Sosialis dari Blok Timur, hilang begitu saja ditelan
sejarah dari permukaan bumi. Sebagai gantinya, lahir sejumlah negara baru,
salah satu darinya ialah Federasi Rusia (Russian Federation) yang dipimpin oleh
B. N. Boris Yeltsin; kembali menjadi negara demokratis. Yang akhir ini
menyambut kembali “sistim ekonomi kapitalis” yang bertanggung jawab kepada
kesejahteraan rakyat, sebagaimana yang dirintis oleh kekaisaran Rusia silam, dan
memulihkan lagi perekonomian negeri yang telah porak poranda.
Uni-Sovyet berjaya selama
lebih dari 72 tahun (1917-1989), memang berusaha keras untuk membuktikan
sosialisme yang menuju komunisme, sebagaimana yang diajarkan oleh ideologi
Komunis, akan tetapi dalam perjalanan waktu ternyata gagal. Sosialisme juga
tidak memperli-hatkan keunggulan dalam berbagai bidang, termasuk ilmu
pengetahuan dan teknologi berikut penerapan keduanya dalam memperbaiki kesejahteraan
hidup anak-anak bangsa. Manakala dibandingkan dengan Jerman dan Jepang, sedemikian
hancur di bom oleh sekutu dalam Perang Dunia ke-II silam, dalam perjalanan waktu
hanya sedikit lebih dari setengah abad, masing-masing berhasil tampil menjadi raksasa-raksasa
ekonomi ke-2 dan ke-3 dunia sesudah Amerika Serikat, akan tetapi dalam waktu tidak
jauh berbeda Uni-Sovyet justru lenyap dari muka bumi. Negara adidaya dunia
saingan Amerika Serikat itu, juga kelihatan kelabakan saat berhadapan dengan bencana
Chernobyl pada tanggal 26 April 1986 lalu. Pertolongan datang menghadapi bencana
nuklir mengerikan di Ukraina, sebuah negara bagian negeri itu, kebanyakan
datang dari negara-negara kapitalis ketimbang negara-negara sosialis yang sealiran
ideologi menghadang serbuan sinar radio-aktif. Perlu dicatat, pada ketika itu
“perang dingin” antara Blok Barat dan Blok Timur masih belum lagi berakhir.
Sosialisme juga tidak
memperlihatkan penyelesaian terhadap masalah limbah, sebagaimana yang dihadapi
negara-negara kapitalis, mulai rumah-tangga hingga dengan buangan beragam industri
dari ringan hingga berat yang melanda berbagai negara kapitalis di dunia ketika
itu. Pasca runtuhnya Uni-Sovyet, barulah media berani mengabarkan kerusakan
lingkungan yang telah terjadi di negara bersistem ekonomi sosialis yang bernama
tirai besi. Kerusakan lingkungan juga kemudian terkuak ke media di berbagai negara
satelit Beruang Merah itu, oleh lamanya terisolasi dari masyarakat dunia karena
perbedaan ideologi, juga ketidak berdayaan sistim ekonomi sosialis
mengembangkan beragam prakarsa berkaitan dengan menjaga kelestarian ekosistim di
muka bumi. Tidak dapat disangkal terseretnya negara-negara anggota non-blok
yang menerapkan sistim ekonomi sosialis model Uni-Sovyet untuk mensejahterakan kehidupan
bangsa, kemudian terjerumus kedalam penanganan lingkungan hidup birokratis yang
merugikan ekosistim bumi dari negara bersangkutan.
c.
Sistim Ekonomi Romantis
Revolusi industri
berkembang di Eropa lalu meluas ke Amerika Utara, kemudian Jepang dan sejumlah bagian
dunia lain, tidak disangkal lagi mendapat perlawanan dari para penentangnya, antara
lain: penulis, kaum intelektual, para penggiat budaya beragam seni, dan lain
sebagainya. Kelompok masyarakat di daratan Eropa yang kala itu menolah kehadiran
revolusi industri digerakkan kaum pengusaha diberi julukan: kaum
romantis. Kedalam golongan ini termasuk juga para penyair yang rajin
menyuarakan buah fikiran dan suara hati lewat tulisan, seperti: makalah, pembacaan
puisi, menulis sajak, dan lain sebagainya. Mereka juga mempertontonkan
karikatur, melakukan pementasan panggung hingga theater, dan masih banyak lagi kegiatan
lain yang mereka kerjakan. Kaum romantis ingin menjaga hubungan yang harmonis
antara manusia de-ngan lingkungan hidup alamnya di muka bumi, bersenjatakan kepiawaian
beragam seni dan kekayaan warisan budaya lewat media bahasa. Apa yang mereka perbuat
bertolak belakang samasekali dengan beragam mesin ukuran gergasi dan bangunan
raksasa yang semakin bermun-culan dalam lingkungan hidup manusia pada saat itu.
“Dark Satanic Mills” karya William Blake, novel “Frankenstein” tulisan Marry
Shelley, dan masih banyak lagi lainnya, ingin mengadu ke-pada dunia terhadap ketidak
senangan mereka pada perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di daratan Eropa
yang berwajah ganda. Pernyataan dilontarkan dan prilaku dipera-gakan semuanya menampakkan
sikap tidak senang. Akan tetapi kaum romantis tidak pernah memperjuangkan berdirinya
sebuah negara dengan pemerintahan yang beranggungjawab kepada kesejahteraan
rakyat suatu bangsa, dan itulah sebabnya mengapa tidak ada tulisan diketahui yang
dikerjakan tentang kelebihan atau kekurangan: “sistim ekonomi romantis” yang
bertanggung-jawab terhadap kesejahteraan sebuah bangsa di muka bumi, terkecuali
keinginan besar untuk menjaga dan memelihara kelestarian ekosistim di bumi yang
terbentang di hadapan mereka di permukaan planit ini.
Pencemaran Muka Bumi
Pencemaran di muka
bumi memang bukan persoalan baru, karena telah timbul sejak ribuan tahun silam
disebabkan beragam bencana, antara lain: meletusnya gunung-api yang
menghamburkan asap ke udara, mengalirkan lahar panas berikut batuan, melahirkan
lahar dingin yang menerobos pemukiman setelah hujan turun hujan, dan lain
sebagainya. Ada juga yang ditimbulkan per-geseran landas kontinen dan
menyebabkan timbulnya tsunami. Demikian juga banjir bandang yang disebabkan
tingginya curah hujan sesuatu tempat di muka bumi karena perubahan iklim oleh
pemanasan global. Selain dari itu, ada lagi rob disebabkan matahari dan bulan berada
dalam segaris. Bencana alam memang dapat memporakporandakan lingkungan hidup
tempat umat bermukim di muka bumi, mulai kerusakan lahir, tersebarnya bermacam bahan
kimia, dari yang biasa, berbahaya, hingga dengan sangat berbahaya terhadap
makhluk; tidak terkecuali yang dapat mengandung bahan radioaktif. Kerugian yang
ditimbulkan mulai dari kehilangan nyawa, dan harta-benda; tidak terkecuali:
sawah, ladang, dan lingkungan sekitar yang tidak lagi dapat dimanfaatkan dalam waktu
yang panjang.
Pasca Perang Dunia
ke-II, warga Jerman dan Jepang menderita kerusakan lingkungan hidup ditimbulkan begitu banyak bom yang dijatuhkan
sekutu di kedua negeri itu. Selain dari itu, di negeri terakhir, ada lagi dua “bom
atom” dijatuhkan di kota-kota Hiroshima dan Nagasaki me-renggut tidak sedikit
korban jiwa. Kedua bom atom dijatuhkan di Jepang tidak semata menye-babkan kerusakan
lahir, tetapi ada lagi radiasi bahan radioaktif yang tidak tampak oleh mata ber-kepanjangan yang juga membahayakan jiwa manusia.
Belakangan banyak dibicarakan media massa tentang pencemaran radioaktif yang ditimbulkan
Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Fukushima Daiichi, oleh kegagalan
mengatasi kebocoran air pendingin reaktor yang terbuang ke laut Jepang.
Adapun contoh pencemaran
atmosfer menimbulkan bahaya maut yang tidak terduga terhadap warga yang hidup
di muka bumi, ialah malapetaka Bhopal muncul di negara bagian Madhya Pradesh,
India. Pada malam yang naas tanggal 2-3 Desember 1984, timbul kebocoran bahan
methyl iso-cyanate dari sebuah pabrik kimia, yang letaknya tidak berjauhan dari
suatu pemuki-man kumuh. Keesokan harinya dikhabarkan ribuan orang yang bediam
di pemukiman tersebut tidak lagi terjaga dari tidur mereka, karena telah
berpulang ke rakhmatullah.
Sepanjang tahun 2008 silam
dichabarkan melalui media, sebanyak 29 Triliun metic-ton gas karbon dioxida (CO2)
telah dibuang menuju ke atmosfer bumi yang menyelimuti planit biru ini. Gas berbahaya ini berasal dari bermacam industri
yang menghasilkan bermacam barang kebutuhan umat yang hidup di bumi, tidak
terkecuali aneka ragam sarana angkutan yang melayani umat bepergian pada
tahun yang disebutkan.
Di daratan Eropa muncul
hujan-asam (acid rain) berasal dari asap yang meninggalkan PLTU yang
membakar beragam Bahan Bakar Padat (BBP), kebanyakan batubara. Sebagai
akibatnya, daun-daun pohon dari hutan yang tidak berjauhan letaknya dari pusat
pembangkit tenaga listrik disebutkan menjadi mengering.
Selama Perang Vietnam
berlangsung, negeri itu dilanda hujan-kuning (yellow-rain) di bagian utara
negeri. Negara Paman Sam saat itu mengambil kebijakan menyebarkan bahan-kimia
dari udara yang menyebabkan hujan yang turun berwarna kuning di musim hujan. Adapun
tujuan penyebaran bahan-kimia untuk menghambat laju gerakan pasukan-pasukan
Vietcong yang sedang menerobos ke Selatan, namun dampak yang tidak diinginkan menimbulkan
bayi-bayi manusia yang lahir di wilayah terkena hujan kuning menjadi cacat saat
lahir, tidak terkecuali gangguan kesehatan lainnya.
Di negeri Sakura
berjangkit apa yang dinamakan orang penyakit-Minamata (Minimata-disease).
Penyakit ini dikhabarkan timbul karena tercemarnya air laut oleh airraksa (merkuri),
cairan logam berat yang dibawa aliran di sejumlah sungai di Jepang menuju ke
laut. Sebagai akibatnya banyak ikan-ikan yang hidup dan mencari makan di laut yang
tercemar, lalu mengandung logam airraksa berbahaya dalam tubuh mereka. Kaum ibu
Jepang yang menyantap ikan-ikan yang ditangkap dari perairan yang tercemar kemudian
melahirkan bayi-bayi cacat, tidak terkecuali gangguan kesehatan lain. Limbah air-raksa
juga mencemari berbagai sungai di Tanah-Air, di bagian hulu mana terdapat para
pendulang emas yang memanfaatkan airraksa untuk memisahkan emas diperoleh, lalu
membuang limbah dihasilkan begitu saja ke sungai dan langsung men-cemari air
sungai.
Salah sebuah akibat bahaya
“sinar radioaktif”, ialah terbunuhnya Alexander Livinenko dari Ru-sia sebagaimana
yang diberitakan belum lama berselang. Ia dikhabarkan menerima radiasi Plu-tonium 210 (Po-210) yang radioaktif memancarkan
sinar alpha berkepanjangan, disembunyikan orang yang tidak bertanggungjawab dalam jarak
yang tidak jauh.
Sebuah hasil penelitian
Universitas Chicago, Amerika Serikat, menunjukkan adanya hubungan atau korelasi,
antara tingkat pencemaran pestisida sebuah lingkungan hidup dengan munculnya
gejala autisme, demikian juga kekurangcerdasan (Intellectual Disability, ID)
anak baru dilahir-kan di lingkungan tersebut. Tampaknya, pencemaran suatu lingkungan
hidup pada tingkat ter-tentu, berdampak pada program kegiatan TMH didalam
kandungan para ibu, menyebabkan bermacam program kimia organik dingin yang tengah
berlangsung didalam tubuh bayi terusik karenanya.
Masih terdapat banyak
ragam pencemaran lingkungan hidup yang timbul di muka bumi oleh kegiatan manusia
dalam hidup ini, seperti yang diakibatkan karamnya tanker Exxon Valdez di
Prince William Sound, Alaska, tanggal 24 Maret 1989 silam. Kapal pengangkut minyak
mentah tujuan Long Beach, California, Amerika Serikat, itu tiba-tiba membentur
karang Bligh dalam perjalanannya, lalu menumpahkan minyak-mentah dari sekitar
260,000 hingga 750,000 barrels (41,000 hingga 119,000 m3), menjadikan
salah sebuah bencana lingkungan hidup terparah yang pernah diketahui orang di
dunia selama ini.
Beragam bahan
pencemar yang ada dalam lingkungan umat dapat masuk kedalam tubuh ma-nusia, pertama: ketika orang sedang bernafas lewat
paru-paru dan menghirup limbah-gas dan butiran-butiran benda renik; kedua: melalui mulut saat orang sedang: minum
dan menyantap makanan yang mengandung limbah-cair berbahaya atau sangat
berbahaya; dan ketiga: melalui
sentuhan langsung dengan beragam benda-padat berbahaya atau sangat berbahaya saat
sedang berkegiatan, seperti: bekerja, berolah raga, dan lainnya.
Sebagaimana yang
telah dikemukakan sebelumnya, revolusi industri tampil di Eropa dengan beragam
mesin yang memudahkan kehidupan umat silam, semula dikira orang sebagai berkah kepada
umat. Akan tetapi dengan terjadinya perubahan iklim nyata disertai angin
kencang dan iringan ombak besar yang mendatangkan beragam bencana di muka bumi,
umat Islam lalu sadar akan peringatan Tuhan dalam surat Ar-Rum, Ayat 41, tercantum
dalam Al-Quran, akan “arti” sesungguhnya rangkaian kata: “merasakan kepada
mereka sebahagian dari (akibat) dari perbuatan” manusia: “agar kembali ke jalan
yang benar”.
Revolusi industri tampil
di Eropa silam berawal dari temuan Thomas Savery (1650-1715) dari Inggris, yang
sedang tertantang mewujudkan pompa-air tenaga atmosfer kebutuhan tambang, lalu
mempatenkannya. Thomas Newcomen (1664-1729), rekan senegaranya melihat
kekurangan pompa rekannya, dan memperkenalkan pompa-air berpengisap dibantu uap
untuk maksud yang sama. Kedua pompa ini lalu menggoda James Watt (1736-1819)
rekan senegara yang lain, mem-buat mesin-uap berputar dijalankan uap bertekanan
untuk kebutuhan beragam industri yang diu-sahakan orang ketika itu, tidak
terkecuali yang memperkenalkan kereta-api
pertama di dunia oleh George Stephenson
(1781-1848) menghubungkan Sockton dengan Darlington di Inggris membakar Bahan
Bakar Padat (BBP) ragam batubara. Mesin-uap yang bernama ilmiah Mesin
Pembakaran Luar (MPL), memiliki “kemasan ganda” (double package): sebuah digunakan
un-tuk “periuk” tempat menanak air yang menghasilkan uap bertekanan
(tenaga potensial) lewat pembakaran di luar silinder, lainnya berupa sebuah:
“silinder dengan pengisap”, digunakan untuk mengubah tenaga potensial uap yang ada
dalam kemasan pertama menjadi tenaga-gerak putar di-perlukan beragam industri, seperti:
angkutan, dan lainnya. Batubara lalu ditambang orang dima-na-mana di muka
bumi kedalaman puluhan hingga ratusan meter, sedangkan air diperoleh dari
sungai terdekat.
Dari Belgia, negara
Eropa lain, tahun 1860 Jean Joseph Etienne Lenoir (1822-1900) memper-kenalkan bernama
ilmiah Mesin Pembakaran Dalam (MPD) berpemantik, yang dikenal dengan istilah
“motor bakar”. Bahan-bakar digunakan bukan batubara, tetapi Bahan Bakar Cair
(BBC) bernama bensin yang gampang menguap.
Karena gas bertekanan
untuk mendorong pengisap kebawah dapat dihasilkan langsung didalam silinder dalam
sekejap dengan pemantikan, maka MPD tidak membutuhkan periuk tempat bertanak
air, sehingga “kemasan ganda” James Watt oleh Etienne Lenoir disusutkan menjadi
sebuah “kemasan tunggal” (single package). Dengan demikian MPD memerlukan tempat yang lebih
kecil untuk daya dihasil-kan yang sama, menyita ruang atau volume lebih sedikit
dalam kendaraan, lebih ringan, lebih murah pula harganya. Akan tetapi MPD membutuhkan
BBC yang mudah menguap, dengan minyak mentah asalnya perlu didatangkan dari
dalam perut bumi ribuan meter dalamnya, selanjutnya harus diolah dalam kilang agar
menjadi bensin.
Dua tahun kemudian
dari Jerman, negara Eropa yang lainnya, Nikolaus Otto memperkenalkan MPD dengan
pengabut (carburettor) dan pemantik listrik (electric ignition), yang lalu dikenal
luas dengan nama: mesin bensin. Pada
tahun 1900 menyusul pula Rudolf Diesel, rekan sebang-sanya, memperkenalkan MPD dipantik
kempa (compression ignition) dan dinamakan: mesin
diesel. Berbeda dengan TMH (Teknologi Makhluk Hidup) “pengubah panas” kimia
organik “suhu tubuh” atau suhu rendah diperkenalkan Ilahi di muka bumi, akan
tetapi teknologi yang dikembangkan umat sejak awal revolusi industri di Eropa
silam, kemudian menyebar ke seluruh penjuru dunia, menperkenalkan “pengubah
panas” kimia anorganik “suhu amat tinggi” dengan temperatur ribuan derajat Celsius.
Revolusi industri yang diawali dari Eropa silam dengan demi-kian telah
melahirkan: serangkaian “Sumber Tenaga Gerak”, disingkat STG (Mechanical Energy
Source, disingkat MES), yang mengubah “panas” hasil pembakaran bahan-bakar bersuhu
amat tinggi menjadi “tenaga gerak” (mechanical energy), berupa: sebuah MPL dikenal
dengan istilah “mesin-uap”, dan dua buah MPD masing-masing dinamakan “mesin-bensin”
dan “mesin-diesel”.
Ketiga macam pengubah
“panas” menjadi “gerak”, disingkat: Pengubah Panas Gerak (PPG), a-tau Thermo
Mechanic Convertor (TMC), dinamakan: “mesin pembakaran”, terdiri dari: MPL yang
bertanak air dalam periuk (ketel) untuk menghasilkan uap bertekanan yang dibutuhkan
mesin, berlangsung diluar silinder-silinder mesin menggunakan BBP, dan MPD yang
melakukan pembakaran langsung dalam silinder-silinder mesin, karena tidak
memerlukan periuk tempat bertanak air, akan tetapi membakar BBC mudah menguap atau
BBG. Dengan demikian STG- PPG (MES-TMC) yang diperkenalkan revolusi industri
kepada umat di dunia pertama kali benar-benar barang yang baru samasekali, dimulai
dari Inggris, dilanjutkan oleh Belgia, kemudian disempurnakan oleh Jerman;
memperkenalkan kepada manusia apa yang kemudian dinamakan dengan: “mesin”
(Indonesia), “engine” (Inggris), dan “maschine” (Jerman), dan me-nyebar ke segala
penjuru dunia.
Mesin yang bekerja mengubah “panas”
menjadi “gerak” dinamakan orang: “Pengubah Panas Mekanik”, disingkat PPM (Thermo
Mechanical Convertor, disingkat TMC). Mesin demikian membakar beragam bahan-bakar
lewat reaksi kimia anorganik guna membebaskan panas (kalor) menimbulkan suhu sangat
tinggi guna membangun uap atau gas bertekanan. Adapun dua kelompok mesin yang
diperkenalkan revolusi industry di Eropa silam, ialah: MPL (ECE) yang merebus
air dalam periuk (boiler) diluar silinder mesin dengan membakar bahan-bakar
padat( batubara) untuk mendapatkan uap bertekanan, dan MPD (ICE) yang membakar
bahan-bakar cair atau gas langsung dalam silinder mesin untuk menghasilkan gas
bertekanan, tanpa membutuhkan periuk (boiler) samasekali. “Uap bertekanan” atau
“gas bertekanan” merupakan “kunci pertama”, temuan bangsa Eropa ini, sedangkan
“silinder berikut pengisap, lengan dan poros engkol” meru-pakan kunci kedua
temuan tadi, dari apa yang telah
dilakukan revolusi industry diawali dari Eropa silam, dan mengubah drastis
peradaban umat di muka bumi sampai hari ini.
Kedua kunci penemuan disebutkan
sebetulnya dapat ditemukan juga komunitas umat mana saja di bumi, sejauh mereka
yakin bahwa Allah, yang Maha Pengasih yang Maha Penyayang, telah menebarkan ke
Alam Semesta bermacam pengetahuan termasuk ilmu-alam (fisika) yang begitu sederhana
kedua kunci. Banyak komunitas umat di muka bumi yang telah lama thau air
direbus dalam benjana menghasilkan uap bertekanan, demikian juga gas mudah
menyala akan menye-babkan letusan, akan tetapi apabila umat tidak menaruh
perhatian kepada apa yang telah disemaikan Ilahi di Alam Semesta, wbilkhusus di
muka bumi tempat insan berdiam, maka kesempatan emas akan diambil komunitas
lain yang lebih tekun mencari dan menemukan, sebagaimana yang telah dikerjakan
oleh komunitas Eropa silam.
Meski MPL dan MPD begitu
besar manfaatnya kepada manusia sejak awal dari revolusi industri silam, tetapi kebanyakan (mayoritas) “panas”
yang dibebaskan reaksi kimia pembakaran bahan-bakar dinyatakan dalam “kalori” cuma
terbuang percuma. Hanya sebagian kecil (minoritas) “panas” hasil pembakaran
bahan-bakar yang dapat diubah menjadi “gerak” (mekanik) untuk menggerakkan bermacam
industri, atau sarana angkutan: darat, air, dan udara, serta lainnya. Itulah
sebabnya mengapa ketiga PPG temuan revolusi industry ini tergolong “boros” atau
“tidak-efisien” memanfaatkan bahan-bakar, karena lebih banyak “panas” hasil
pembekaran yang terbu-ang percuma ketimbang dimanfaatkan. Diterjemahkan kedalam
pemakaian bahan-bakar, lebih banyak bahan-bakar yang dibawa kendaraan hanya dihamburkan
begitu saja sepanjang jalan dilalui untuk mencemari lingkungan hidup manusia di
muka bumi daripada dimanfaatkan.
Sebuah lokomotiv-uap
digerakkan MPL menarik rangkaian kereta-api dari Jakarta ke Surabaya sebetulnya
memerlukan 10% “panas” hasil pembakaran seluruh batubara yang dibawa dan
dibakar untuk mengantarkan kereta-api bersama penumpang sampai ke tujuan; adapun
90% “panas” yang lain, hanya dihamburkan begitu saja sepanjang jalan dilewati
memanasi udara sekitar. Diterjemahkan kedalam pemakaian BBP, hanya 10% berat
batubara yang dibawa dan dibakar yang bermanfaat mengantarakan rangkaian
kereta-api bersama penumpang sampai ke tujuan, sementara 90% berat batubara lainnya
dihamburkan begitu saja sepanjang jalan dilalui mengotori lingkungan. Sebuah sepeda motor atau
mobil dijalankan MPD, akan menghamburkan 75% “panas” hasil pembakaran bensin
memanasi udara sekitar, hanya 25% “panas” hasil pembakaran bensin yang bermanfaat
mengantarkan pengemudi bersama kendaraan sampai ke tujuan. Diterjematukhkan
kedalam pemakaian BBC, 75% berat bensin yang berada dalam tanki motor atau
mobil ditumpahkan begitu saja sepanjang jalan dilalui, hanya 25% berat bensin
dalam tanki yang dibawa dan dibakar yang benar-benar mengantarkan pengemudi berikut
kendaraan sampai ke tujuan.
Itulah pula sebabnya
mengapa: sepeda motor, angkot, mobil, bis, kapal laut, pesawatterbang dan
lainnya menggunakan MPD, begitu juga yang menggerakkan beragam pabrik samapai
industri, sangat boros mengkonsumsi BBM. Ini disebabkan oleh kenyataan, kurang
dari 25% “panas” hasil pembakaran: bensin, solar, atau lainnya muncul dalam
sekejap dalam silinder-silinder mesin berguna mengantarkan kendaraan bersama
penumpang, barang, atau keduanya, sampai ke tujuan, sementara 75% lainnya hanya
terbuang percuma saja sepanjang jalan dilalui memanasi udara lingkungan sekitar.
Lalu keduanya, baik yang berguna maupun yang terbuang percuma, menimbulkan apa
yang dinamakan dengan istilah: “jejak karbon” (carbon footprint). Pencemaran
yang ditimbulkan sarana angkutan darat yang membakar bahan-bakar selanjutnya
dinyatakan lewat “berat carbon dalam gram” dihamburkan menuju lingkungan
sekitar terhadap untuk setiap km jarak yang
ditempuh. Dengan demikian, sebuah kendaraan pribadi roda empat merek tertentu
dijalankan MPD akan meninggalkan “jejak karbon” di muka bumi sejumlah: x gr/km,
sebagai contoh 135 gr/km.
Adapun
gas hasil pembakaran bahan bakar dihamburkan beragam kendaraan melalui knalpot
masing-masing, ialah: nitrogen (N2), uap air (H2O),
karbon dioksida (CO2);
meski
ketiganya tidak tergolong bebahaya, namun yang disebut akhir ini tergolong gas
penyumbang pemanasan global. Diantara berbagai gas yang tidak dikehendaki
keberadaannya dalam atmosphere bumi ialah: karbon mono-oksida (CO), hidrokarbon (CxHy),
dan oksida nitrogen (NOx). Kini setelah lebih dari dua abad revolusi
industri berlangsung, ketiga macam mesin yang diperkenalkannya diawali dari
Eropa silam, masih belum banyak beranjak dari keborosan pemakaian BBC. Ini
disebabkan oleh “Bidang Teknik Mesin” dari beragam Perguruan Tinggi Teknologi
di muka bumi ini masih belum menemukan pemecahan masalah yang dihadapi secara ekonomis.
Jejak karbon inilah yang kini disaksikan warga China mengambang di udara berbagai
kota besar di negeri Tirai Bambu itu, seperti: Beijing, Shanghai, dan lainnya dan
telah menganggu pernafasan warga bangsanya. Ancaman semacam itu juga akan
menghampiri Tanah-Air, manakala anak bangsa ini tidak berhasil menyiapkan langkah
nyata dalam perencanaan untuk menghindar-kannya muncul di langit nusantara.
Gunung-Api Buatan
Manusia
Hingga kini, sudah
dikenal tiga golongan limbah yang mencemari lingkungan hidup makhluk di muka
bumi ditimbulkan “aliran benda (materi)” yang hijrah dari dalam perut bumi
menuju per-mukaan buatan manusia, pertama:
gas dan benda renik (small particles) hasil pembakaran bera-gam bahan-bakar
asal bermacam industri penghasil barang (produk) dan jasa (service), mulai dari:
industri dan pabrik, sarana angkutan, tambang, kilang mulai kecil hingga besar,
bermacam kegiatan ekonomi masyarakat dari kecil sampai menengah, dan lainnya
yang ada di muka bumi dan dihamburkan begitu saja menuju atmosfer diseputar
bumi dan mencemari udara; kedua:
air-kotor dihasilkan beragam industri penghasil barang (produk), jasa (jasa), mulai:
pabrik, industri, angkutan, tambang, kilang, mulai kota kecil sampai besar, dan
lainnya; lalu dibuang begitu saja kedalam badan-air: parit, kolam, kanal,
danau, sungai, laut, berakhir di samudra; ketiga:
berjenis barang hasil pabrik hingga industri yang telah habis masa pakai
ekonominya lalu beralih menjadi barang rongsokan, seperti: mobil, kereta-api,
kapal mulai sungai hingga samudra, pesawat-terbang, beragam perlengkapan dan
peralatan perang, komputer, laptop, telepon pintar, limbah rumah tangga mulai:
desa, kota kecil sampai besar, dan lainnya; diterlantarkan begitu saja di dimana-mana
di daratan menyita lahan semakin luas. Dengan penduduk yang berdiam di muka bumi
yang terus bertambah, ketiga kelompok limbah disebutkan juga akan meningkat jumlahnya
di muka bumi dalam perjalanan waktu kedepan.
a. Pencemaran
Atmosfer
Seorang pengemudi
sepeda motor menyimak penunjuk bensin, dan mampir ke tempat pengisian
BBM. Dari tanki, dengan teknologi mutakhir bensin disuntikkan kedalam silinder,
dan setelah bercampur udara dipantik. Timbul letusan, “panas” dibebaskan, gas
bertekanan timbul sekejap dalam silinder mendorong “pengisap” kebawah. Dengan bantuan
lengan dan poros-engkol, gerakan lurus pengisap diubah menjadi putar. Kemudian
dengan rantai, gerakan putar poros dihubungkan ke roda belakang yang membuat
sepeda motor bergerak. Diperlukan banyak sekali letusan dalam silinder untuk mengantarkan
pengendara sepeda motor bersama pengendara sampai ke tujuan. Dengan mengatur
isi (volume) silinder, mulai ukuran hingga dengan banyaknya, begitu juga ragam
BBM dimanfaatkan, daya (power) dihasilkan mesin dapat diatur.
Demikian awalnya,
bagaimana revolusi industri di Eropa silam memperkenalkan STG bikinan manusia
hasil akal budinya, hanya memanfaatkan “ilmu alam” (fisika) yang begitu sederhana,
lalu mengubah “peradaban manusia” di muka bumi, lebih dari dua abad lamanya
sampai hari ini, hanya dipicu pompa buatan Thomas Savery, yang lalu diperbaiki
Thomas Newcomen, kemudian oleh James Watt diubah menjadi "sumber tenaga
gerak" mesin pembakaran luar, disingkat MPL, ketiganya dari Inggris;
dilanjutkan J.E.Lenoir dari Belgia memperkenalkan "sumber tenaga
gerak" pembakaran dalam, disingkat MPD. Dan yang disebut belakangan, dapat
dikatakan sebagai: rangkaian letusan hasil pembakaran BBM terkendali kemasan
tunggal (single package) yang menghasilkan “tenaga gerak” kebutuhan beragam
industri, wabilkhusus: sarana angkutan, tidak terkecuali beragam industri lainnya.
Manakala tidak dikemas baik, dan tidak juga terkendali, akan menimbulkan
letusan bom menghancurkan seketika manakala bahan-bakar yang telah bercampur
udara dipantik. Sejak dari saat bersejarah itu, berbagai industri lalu bermunculan
dimana-mana di muka bumi ibarat jamur di musim hujan yang menyediakan lapangan
kerja kepada umat, tidak terkecuali memperkenalkan bermacam sarana angkutan:
darat, air, udara, keperluan: sipil, militer, dan lainnya. Budaya bepergian
berjalan-kaki dan naik-kuda, tidak terkecuali kereta dihela kuda atau ternak
peliharaan lain selama ini dimanfaatkan orang dimana-mana di muka bumi, lalu lenyap
dan digantikan kendaraan yang dijalankan mesin pembakaran yang belum diketahui
orang dari zaman sebelumnya. Bermacam lingkungan budaya dan adat istiadat yang semula
tertutup terisolasi oleh jarak perjalanan yang jauh, kemudian seketika terbuka menyebabkan
timbulnya beragam permasalahan: sosial, ekonomi, politik, keamanan, dan lainnya
yang rumit sekali.
Usai letusan pertama,
silinder mesin lalu dikuras menjelang penyuntikan bensin baru untuk kembali dicampur
udara baru menjelang pemantikan selanjutnya; demikian seterusnya dengan
letusan-letusan yang kemudian menyusul. Pembilasan silinder melahirkan “gas
buang” yang dikeluarkan lewat knalpot, melahirkan “limbah gas” yang
diperkenalkan revolusi industri. Lim-bahgas yang dikeluarkan ribuan, jutaan,
miliard, triliun, bahkan lebih banyak lagi letusan, yang dihamburkan saja menuju
atmosfer bumi akan mengotori atau mencemari udara, karena tidak lagi dapat
dikembalikan kedalam perut bumi darimana berasal, setelah “panas” berhasil
pemba-karan bensin diubah menjadi “gerakan” yang diperlukan si pengendara
sepeda motor.
Limbah gas tidak semata
dihamburkan sarana angkutan: darat, laut, dan udara, tetapi juga oleh tak
terhitung banyaknya pabrik dan industri yang telah ada di muka bumi hingga kini
yang memanfaatkan: mesin-uap, mesin-bensin, dan mesin-diesel untuk memproduksi:
beragam barang (produk), layanan jasa; (service) yang bilanagn dan ragamnya
terus bertambah di bumi dalam perjalanan waktu, tersebar kedalam berbagai
negara. Selain pencemaran atmosfer diperoleh dari pembakaran: BBP, BBC, dan BBG
berlangsung didalam silinder-silinder beragam kendaraan, masih ada sumber
pencemaran dari bahan “additive” yang ditambahkan orang dengan sengaja, seperti:
logam timbel kedalam bahan-bakar, dan lainnya kedalam minyak lumas. Adapun mak-sud
penambahan bahan-bahan ini demi meningkatkan kinerja: mesin-uap, mesin-bensin,
dan me-sin-diesel. Manfaat pemakaian bahan additive terhadap mesin diterangkan sangat
baik oleh pabrik pembuatnya, namun dampak “sampah-gas” mengandung bahan additive
apabila terhirup kedalam pernafasan manusia samasekali tidak diterangkan oleh
pembuatnya.
Seperti yang telah
berulang kali disampaiakan, “limbah gas” yang dihamburkan kedalam atmosfer bumi
mengitari planit biru ini, datang dari beragam industri, seperti: bermacam
sarana tansportasi dan berjenis industri yang ada di muka bumi. Adapun jumlah limbah-gas
yang dihamburkan dalam Triliun metric-ton tergantung dari: isi (volume)
silinder, bilangan silinder, putaran poros per menit, daya dihasilkan, dan jumlah:
mesin-uap, mesin-bensin, dan mesin-diesel yang dimanfaatkan orang setiap saat
di seluruh penjuru dunia dalam setahun menghasilkan bermacam barang (produk) dan
aneka jasa (service). Perlu dicatat luas permukaan bumi, terdiri dari daratan
dan muka air, seluruhnya: 510 juta km2. Tiga perempat berat (massa)
udara yang menyelimuti bola bumi terletak hingga ketinggian 11.000 meter (11
km) diatas permukaan laut. Puncak Everest, tempat tertinggi yang terdapat di
muka bumi terletak pada ketinggian 8.848 m diatas permukaan laut, sementara
tempat tertinggi yang dapat didiami manusia ialah: 5.500 m diatas permukaan
laut, karena pada ketinggian tersebut kemampuan paru-paru manusia meraih
oksigen untuk bernafas telah merosot menjadi: 50%. Dengan demikian Volume Udara
(VU) sebagian besar atmosfer bumi mengitari planet biru, keberadaannya
dipercayakan kepada gaya-tarik (gravitasi) bumi, jumlah seluruhnya: 5,41
Miliard km3. Dengan garis-tengah bumi: 12.740 km, Volume Bumi (VB)
besarnya: 1.081 Miliard km3. Dengan demikian perbandingan antara
sebagian besar udara yang mengitari planit biru terhadap volume bumi, memberikan
angka:
VU/VB
= 0,5%
Dari perbandingan
diatas jelas tampak, bahwa lapisan udara yang menyelimuti bola bumi atau planit
biru, hanyalah sebuah lapisan tipis yang boleh juga dinamakan “selaput udara”.
Karena begitu tipisnya lapisan udara ini, maka tidak dapat diragukan amat rawan
terhadap pencemaran yang ditimbulkan aliran benda (materi) mengalir dari dalam
perut bumi menuju permukaan yang semula diawali oleh revolusi industri.
Untuk memberikan
gambaran yang lebih terang lagi “arti” perbandingan yang dikemukakan diatas,
bayangkan sebuah bola bergaris tengah 100 m diletakkan di tengah sebuah stadion
sepak-bola untuk mewakili bola bumi dengan ukuran yang diperkecil. Lalu
sentuhkan sebuah mistar pendek 10 cm tegak lurus kepada bidang yang menyentuh
bola. Dengan demikian, tiga pe-rempat berat udara yang menyelimuti bola bumi
diperkecil akan terdapat pada angka 8,64 cm. Memandang bola bumi diperkecil
dari salah satu kursi di dalam stadion, orang akan mendapat kesan betapa tipisnya
lapisan atmosfer bumi berdimensi selaput ini, benar-benar sangat rawan terhadap
pencemaran yang ditimbulkan aliran bahan (materi) yang meninggalkan perut bumi (diperkecil)
menuju permukaannya berlangsung tanpa henti; yang terus meningkat jumlahnya
menelusuri perjalanan waktu. Akan tetapi bagi orang yang memandang ke angkasa
dari tempat duduk yang sama di dalam stadion, tidak akan mudah percaya bahwa
ruang atmosfer di seputar bola bumi (sebenarnya) yang tampak demikian luas akan
dapat tercemar oleh aliran bahan (materi) yang meninggalkan perut bumi menuju
permukaan berlangsung tanpa henti, meski jumlahnya terus bertambah menelusuri perjalanan
waktu. Lalu apa yang akan mengadili kedua sudut pandang yang bertolak belakang dari
dua orang pengamat yang duduk di kursi stadion yang sama? Hal ini terpulang kepada
“penguasaan ilmu pengetahuan” dan penalaran “akal sehat” yang dimiliki masing-masing
semata.
Selain dari itu, manakala
lapisan udara atmosfer bumi diibaratkan sebuah garasi mobil tertutup rapat yang
berisi mobil dengan mesin dihidupkan. Secara perlahan tapi pasti, udara yang terdapat
dalam garasi akan tercemar limbah-gas buang hasil pembakaran bahan-bakar yang akan
menyebabkan orang-orang duduk di dalam mobil dengan kaca terbuka merasakan
sesak nafas. Terhadap mereka yang duduk di dalam mobil masih ada jalan keluar untuk
mendapat perto-longan, yakni apabila ada orang di luar garasi yang cepat mengetahui
keadaan, dan mendobrak pintu garasi untuk
membukanya denan paksa. Akan tetapi bagi umat yang berdiam di permukaan bumi dengan
udara dalam atmosfer bumi yang tercemar, pertolongan demikian samasekali tidak lagi
mungkin dilakukan.
b. Pencemaran Badan
Air
Beragam industri yang
menghasilkan bermacam barang (produk) dan jasa (service), tidak terke-cuali aneka
ragam sarana angkutan, kilang, dan lain sebagainya; juga tidak terkecuali rumah
tangga dari desa, kota kecil hingga besar, dan banyak lagi lainnya terdapat di muka
bumi memer-lukan air bersih dalam kegiatan sehari-hari. Air bersih yang telah
menjalani proses: campur, endap, saring, bilas, cuici, radiasi, dan lain
sebagainya, lalu berubah menjadi air-tercemar atau air-kotor, karena tidak lagi
dapat digunakan. Air bersih juga menjalani bermacam proses dalam tambang:
batubara, minyak bumi, biji mineral, dan lainnya; mulai dari aktivitas:
penggalian, pengeboran, pengangkutan, pengolahan dalam pabrik dan kilang; baik
yang tengah berjalan maupun yang akan muncul kemudian, semuanya memerlukan air-bersih
yang kian besar jum-lahnya. Air bersih yang menjalani satu atau lebih proses lalu
menjadi air kotor yang dibuang saja.
Dengan penduduk bumi yang semakin besar jumlahnya, begittu pula kegiatan
ekonomi yang terus berkembang, jumlah air-kotor dihasilkan kegiatan hidup
dan ekonomi akan semakin bertambah dalam perjalanan waktu. Karena belum terdapat
Instalasi Penjernihan Air (IPA) yang dapat menangani air-kotor terhadap jumlah dihasilkan
pada banyak tempat di muka bumi yang membutuhkan, maka air-kotor dihasilkan bermacam
proses yang berhubungan dengan kegiatan hidup dan ekonomi manusia di muka bumi
lalu dibuang begitu saja dalam badan air: parit, kanal, sungai, danau, laut,
hingga dengan samudra dimana-mana di seluruh dunia.
c. Pencemaran Darat
Bermacam barang hasil
industri yang sudah habis masa pakai ekonominya beralih menjadi ba-rang
rongsokan, antara lain: mobil, kereta-api, kapal sungai hingga samudra,
pesawatterbang, berjenis mesin perang, komputer, laptop, telepon pintar, sampah
mulai desa, kota kecil hingga besar, dan tempat lainnya, diterlantarkan begitu saja
dimana-mana menyita lahan di muka bumi; disini tidak terkecuali bangun-bangunan
dan instalasi beragam tambang, bor bumi, sarana angkutan yang sudah habis masa
pakai ekonominya; semuanya diterlantarkan orang saja menyita lahan di muka bumi
mulai dari daratan hingga lepas pantai.
Gunung-Api Buatan
Manusia
Dari apa yang telah
dikemukakan, bensin sebelum tiba di pompa BBM, semula “minyak men-tah” dalam kilang
yang diolah menjadi bensin. Dan "minyak mentah" itu sendiri sebelum tiba
di kilang, berada ribuan meter di dalam perut bumi. Bensin yang akhirnya berahir
menjadi: limbah-gas lalu dihamburkan
ke atmosfer seputar bola bumi yang mencemari udara. Begitu pula keadaannya
dengan air-bersih yang sudah tercemar dan menjadi air-kotor. Yang akhir ini
datang dari beragam proses pembuatan barang (produk) dan jasa (service) dalam bermacam
pabrik, industri, kilang, tambang penggalian: batubara, minyak bumi, gas, mineral
dan lainnya. Ada pula air kotor datang dari aktivitas membersihkan atau pembilasan:
motor, mobil, kereta-api, pesawat-terbang, kapal sungai hingga samudra, dan banyak
lainnya. Dan tidak dapat dihindarkan adanya air-kotor datang dari bermacam rumah
tangga yang ada di muka bumi, mulai desa, kota kecil hingga besar; semuanya
mengeluarkan: limbah-cair yang terkumpul
di muka bumi. Akhirnya rongsokan bermacam barang bekas mulai: motor, mobil,
kereta-api, pesawatterbang, kapal su-ngai hingga samudra, dan lain sebagainya. Begitu
pula rongsokan tambang, mulai: batubara, mi-nyak bumi, biji aneka mineral, tidak
terkecuali instalasi penggalian, pengeboran, alat-alat berat dan transportasi, bermacam
instalasi pengolahan, dan lain sebagainya yang sudah habis masa pakai
ekonominya. Selain dari itu tidak boleh dilupakan juga sampah perkotaan yang
menggu-nung muncul dimana-mana di muka bumi yang menimbulkan: limbah-padat.
Dari apa yang telah
disampaikan terlihat jelas, bagaimana aliran benda (materi) dari dalam perut
bumi menuju permukaan “bikinan manusia” yang berakhir menjadi: “limbah-gas”,
“limbah-cair”, dan “limbah-padat”. Karena limbah-gas tidak lagi dapat
dikembalikan kedalam perut bumi setelah “panas” hasil pembakaran bahan-bakar diambil
untuk menggerakkan kendaraann, indus-tri dan lain sebagainya; begitu juga
pencemar air-bersih tidak lagi dapat dipisahkan dari air kotor untuk dikembalikan
ke asalnya dalam perut bumi; selanjutnya rongsokan barang-barang hasil produksi
bermacam industri tidak terkecuali sampah perkotaan tidak lagi dapat dipulangkan
ke-dalam perut bumi darimana datangny; semuanya mencemari: atmosphere, badan
air, dan lahan di permukaan bumi. Manakala dibandingkan dengan gunung-api yang sedang
meletus, “limbah gas” bikinan manusia dapat disetarakan dengan asap gunung api
yang dihamburkan ke udara; “limbah cair” bikinan manusia dapat disetarakan
dengan lahar dingin, atau aliran lumpur gunung-api, atau aliran lumpur Lapindo
di Sidoarjo; dan “limbah padat” bikinan manusia dapat disetarakan dengan lahar
panas gunung-api yang sudah menjadi: abu, pasir, dan bongkahan batuan. Dengan timbulnya
“revolusi industri” di muka bumi, diawali dari Eropa lebih dari dua abad silam,
ketiga macam limbah yang sudah dibidaninya ini, dapat dinamakan dengan:
“Letusan Gunung-api Buatan Manusia”, disingkat: LGBM, atau The Man Made Volcano, di-singkat: TM2V.
Perlu dicatat,
gunung-api yang jumlahnya banyak di bumi, apabila meletus akan berhenti setelah
berlangsung beberapa lama, dan baru akan meletus lagi bertahun atau puluh tahun
kemudian. Akan tetapi, bertolak belakang dengan gunung-api bumi, LGBM meletus
setiap hari sepanjang tahun, dan setiap tahun sepanjang abad, terus-menerus
meletus, karena tidak mengenal istilah berhenti walaupun untuk
sejenak.
Sebuah
Pengandaian
Mengingat
filsafat dan ilmu pengetahuan telah begitu lama berkembang di kawasan Timur
Tengah, disokong luasnya perdagangan begitu pula kontak budaya antara bangsa beragam
budaya berdiam disana dalam perjalanan
waktu yang sangat panjang ketimbang bagian dunia lain, lalu muncul pertanyaan:
mengapa “revolusi industri” tidak diawali justru dari bagian dunia itu? Tampaknya,
Timur Tengah sepanjang waktu terlalu penuh dengan hirukpikuk percaturan
pengaruh dan kekuasaan yang berkepanjangan, sehingga tidak tersedia ruang waktu
untuk mela-hirkan suatu penemuan sederhana yang dapat mengubah peradaban dunia.
Di fihak yang lain, Eropa utamanya Inggris ketika itu, masih tergolong “kampung”
dan jauh dari kegaduhan model Timur Tengah, dibantu kaum intelektual
berpengetahuan tepat guna yang sedang bersemi, menjadikan Eropa saat itu ladang
subur untuk tampilnya gagasan baru, sebagaimana yang telah diperlihatkan Thomas
Savery (1650-1715), ketika menerima tantangan membuat pompa-air keperluan tambang
memanfaatkan vakum ditimbulkan uap bertekanan dalam bejana disiram air dingin, kemudian
mempatenkannya. Thomas Newcomen (1664-1729) rekan senegaranya, mem-perkenalkan pula
gagasan lain untuk maksud yang sama. Dari karya kedua rekan sebangsanya, James
Watt (1736-1819) lalu memperkenalkan “sumber tenaga gerak” pertama di dunia buatan
manusia berupa mesin-uap berputar. Jean Joseph Etienne Lenoir (1822-1900) dari
Belgia, memperkenalkan “mesin pembakaran” pertama di dunia bahan-bakar bensin
pemantik sumbu sebagai “sumber tenaga gerak” ringan. Nikolaus Otto dari Jerman
memperkenalkan mesin pembakaran berpengabut yang berpemantik listrik pertama di
dunia bernama: mesin bensin, yang
mudah digunakan orang. Pada tahun 1900, Rudolf Diesel, rekan senegaranya dari
Jerman memperkenalkan mesin pembakaran berpemantik
kempa pertama di dunia bernama: mesin
diesel. Dengan demikian, sederetan kartu domino teknologi STG pengubah PPG
(TMC) telah diperkenalkan revolusi industri kepada dunia di Eropa lebih dari
dua abad silam. Sejak dari saat bersejarah itu manusia berkenalan dengan STG-PPG
(MES-TMC) yang samasekali baru, diawali
Inggris, dilanjutkan Belgia, lalu disempurnakan Jerman; semuanya
memperkenalkan kepada dunia apa yang kemudian dikenal dengan: “engine”
(Inggris), “maschine” (Jerman), dan “mesin” (Indone-sia), yang kemudian
menyebar ke Amerika Utara, lalun Jepang, akhirnya menyebar ke seluruh penjuru
dunia, tidak terkecuali Tanah-Air.
Setelah
lebih dari dua abad berlangsung, umat kemudian sadar, bahwa PPG (TMC) yang di-perkenalkan
revolusi industri diawali dari Eropa silam, menjadi “penyebab utama” timbulnya pencemaran
lingkungan hidup umat di muka bumi, mulai: atmosfer, badan-air, hingga daratan.
Para ahli ilmu pengetahuan dari berbagai penjuru dunia dari Barat hingga dengan
Timur, kini mengevaluasi keadaan, dan berusaha dengan bersungguh-sungguh mencari
jalan keluar untuk mengatasi dampak negatif yang telah ditimbulkan pencemaran,
sebagaimana yang telah diperi-ngatkan “Surat Ar-Rum, ayat 41”.
Menanggulangi
Pencemaran Atmosfer
Untuk
menghindarkan udara yang mengisi atmosfer bumi tercemar dari limbah-gas
dihambur-kan beragam kendaraan dijalankan mesin, bermacam industri digerakkan
mesin, dan lain seba-gainya yang membakar bahan-bakar fossil, yakni: BBP, BBC,
dan BBG yang meresahkan umat bermukim di perkotaan, bahkan telah dikeluhkan orang
sejak dari awal revolusi industri lebih
dua abad silam, John Bockris dari Pusat Teknik General Motor, Amerika
Serikat, memperke-nalkan penggunaan Bahan Bakar Hidrogen (BBH) tahun 1970,
unsur kimia paling banyak terdapat di muka bumi, sebagai bahan-bakar angkutan umum,
sehingga gas buang dikeluarkan
dihamburkan ke atmosfer bumi hanyalah uap-air. Dengan demikian
pencemaran atmosfer yang disebabkan sebagian aliran benda (materi) dari dalam perut
bumi menuju permukaan, yang telah diperkenalkan sejak awal revolusi industri di
Eropa silam, akan dengan sendirinya hilang. Sebagai pelopor anti pencemaran
atmosfer bumi memanfaatkan BBH, muncul sejumlah negara Nordik, juga berasal dari
luar kawasan Timur Tengah. Pemimpin negara Islandia terinspirasi oleh gagasan John
Bockris dari Amerika Serikat, dan menjadikan bangsanya yang pertama di muka
bumi memproklamirkan “hydrogen-powered economy” (ekonomi berdaya-hidrogen).
Untuk memproduksi (BBH) yang diperlukan bangsanya, tetangga Kutub Utara itu
mengandalkan listrik yang dihasilkan Pusat Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTPB)
banyak terdapat dinegeri itu, untuk mengurai “air” menjadi: hidrogen dan
oksigen. Bis angkutan umum bertenaga hidrogen pun segera diujicoba di
jalan-raya ibukota Reykjavik, disusul mobil listrik bersumber tenaga listrik
sel bahan-bakar.
Negara
luar kawasan Timur Tengah lain, yang juga sedang berkemas menyambut
“hydrogen-powered economy”, ialah Swedia. Berlainan dengan Islandia yang mengandalkan
tenaga panas bumi, Swedia memanfaatkan tenaga listrik diperoduksi peladangan
panel surya. Bagian Barat negeri telah pula dijadikan tempat mengembangkan wilayah
ramah-lingkungan, terutama daerah pelabuhan dan tempat industri kendaraan
bermotor SAAB yang akan memanfaatkan BBH untuk bahan-bakar.
Negara
Nordik lain yang tidak ingin ketinggalan, ialah Denmark. Walikota Nakskov dari pulau
Lolland telah membuat kerjasama dengan pengembang sel bahan-bakar negeri
bernama IRD, dan mengembangkan pula proyek dan organisasi: “Baltic Sea
Solution”. Yang disebut akhir ini tidak lain masyarakat Denmark sendiri yang
akan melahirkan kelompok warga yang akan menjadi komunitas penguji kelajakan
penggunaan teknologi sel bahan-bakar yang sedang dikembangkan termasuk menyediakan
beragam fasilitas pendukung diperlukan.
Bagaimana dengan Indonesia,
sebuah negara Asia Tenggara yang juga terletak di luar kawasan Timur Tengah. Di
negeri dengan Sumber Daya Alam (SDA) panas bumi yang melimpah, bahkan yang langsung
dari gunung-api masih aktif banyak jumlahnya, begitu pula peladangan panel surya
dengan lahan luas yang ada di khatulistiwa, dengan sendirinya tidak boleh ketinggalan
dari segelintir negeri Nordik disebutkan. Walau tidak lagi akan menjadi pelopor,
namun Indonesia dengan Sumber Daya Manusia (SDM) jumlah besar lagi
berpendidikan, kesempatan menjadi “motor” hydrogen-powered ekonomi kawasan Asia
Tenggara berdampak global sangat besar, akan tetapi negara besar berlahan luas ini
memilih langkah lain. Meski sejak 30 Desember 1949 Indonesia telah menjadi negara
merdeka yang diakui dunia (PBB) bernama: Republik Indonesia Serikat (RIS), sejak
awal pimpinan negara ini memilih berpetualang dengan “Demokrasi Terpim-pin”,
mengindoktrinasi rakyat dengan TUBAPI, menggunting dan mendevaluasi ganda Rupiah
yang meluluhlantakkan perkonomian bangsa;
kemudian disusul lagi dengan “Demokrasi Panca-sila”, mengindoktrinasi rakyat
dengan BP7, dan terjangkit krismon Thailand yang berakibat Rupiah terpelanting tahun
1997 dan mengacaukan perekonomian bangsa berkepanjangan; sebe-lum reformasi tahun
1998 muncul menyelamatkan. Sebagai akibat dari kedua petualangan yang menghabiskan
waktu lebih setengah abad, Indonesia tampil tertinggal dari Korea Selatan yang hancur
dalam perang semenanjung negeri itu, baru damai pada tanggal 27 July 1953; juga
sejumlah negara tetangga, seperti: Malaysia merdeka 1957, Singapura merdeka
1965, Brunai Da-russalam merdeka 1984, dalam beragam bidang kehidupan,
kesejahteraan rakyat, tidak terkecuali hak azasi manusia.
Sejarah Pendidikan
Sebagaimana yang telah
disampaikan sebelumnya, agama Islam masuk ke Nusantara dibawa para mubaligh dan
kaum pedagang. Mereka kemudian mendirikan mesjid dan surau untuk tem-pat beribadah
sekaligus pusat pengajaran kepercayaan yang baru. Kemudian muncul madrasah, yang
kini bernama: Pondok Pesantren, disingkat Ponpes. Adapun matapelajaran diberikan
dalam madrasah-madrasah di Asia Tenggara dan Tanah-Air, ialah tentang agama
Islam, bermuatan: keimanan, hukum, nilai, dan lainnya sebagainya sebagaimana
tercantum dalam kitab suci Al-Quran dan Hadis menggunakan bahasa daerah dengan
“aksara Arab”. Lahir kemudian bahasa daerah menggunakan aksara Arab di Asia
Tenggara.
Memasuki abad ke-20,
kaum kolonialis: Inggris, Perancis, dan Belanda yang mempunyai tanah jajahan di
Asia Tenggara, memperkenalkan pula program baru dalam koloni masing-masing.
Itulah sebabnya mengapa negara-negara ini lalu memperkenalkan pendidikan Barat
untuk men-dukung program yang mereka persiapkan. Di Nusantara, Belanda mendirikan
“sekolah gouver-nement” yang berubah menjadi “sekolah melayu”. Sekolah ini
dirancang untuk mencetak SDM asal anak negeri yang akan dijadikan: pamong,
guru, kerani (pegawai administrasi), dan lain sebagainya. Adapun matapelajaran
diberikan di sekolak-sekolah melayu ketika itu, ialah: me-nulis, membaca,
berhitung, tidak terkecuali pengetahuan umum. Bahasa pengantar digunakan ialah:
“bahasa melayu” dan bahasa daerah, namun aksara yang digunakan “tulisan Latin”
pilihan Belanda. Lahir dengan demikian bahasa melayu aksara Latin, dan
bahasa daerah dengan tulisan yang sama.
Kemudian Belanda
mengembangkan lebih jauh pendidikan Barat yang diperkenalkannya sampai jenjang pendidikan tinggi dan Universitas
sebagaimana berkembang di benua Eropa, sebaliknya pendidikan madrasah berlangsung
sebagaimana yang berjalan di Timur Tengah. Meski pendidi-kan Barat yang diperkenalkan
Belanda di Tanah-Air silam telah menjadi: Sekolah Rakyat (SR), Sekolah Menengah
Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA), dan Universitas memasuki alam kemerdekaan,
dalam mengembangkan pendidikan nasional di Tanah-Air; demikian juga pedidikan
Ponpes madrasah dengan menambahkan matapelajaran tentang: ideologi negara, ma-nagemen,
keterampilan, teknologi, dan lainnya kedalam kurikulum; akan tetapi kedua
sistim pendidikan lahir dari perjalanan sejarah yang berbeda itu masih memperlihatkan
padangan hidup para wisudawan yang belum seiring. Dualisme masih tampak dan
terasa dalam pemahaman ma-syarakat, dengan menyeruaknya dalam kehidupan umat pemahaman
“ahli zikir” dengan “kaum intelektual” yang tetap berseberangan.
Dinamika Sumber
Tenaga Gerak
Alam semesta adalah sebuah
sistim mekanik yang terbesar. Itulah sebabnya mengapa makhluk yang berdiam di permukaan
benda langit, tidak terkecuali bumi, menjadi bagian dari sistim mekanik benda
langit itu. Setiap benda, baik yang hidup maupun mati, memerlukan tenaga untuk bergerak. Manusia, hewan, dan tumbuhan juga memanfaatkan
“panas” hasil pembakaran “karbo-hidrat” dihasilkan dalam tubuh dengan “oksigen”
didatangkan dari atmosfer, dikerjakan serang-kaian otot untuk begerak. Terdapat
beragam STG (SoME) yang telah berhasil dikembangkan manusia berdiam di
muka bumi, masing-masing:
A. Panas Reaksi Kimia
Apa yang
diperkenalkan revolusi industri di Eropa silam, ialah STG (SoME) mengubah
“panas” (heat) hasil pembakaran bahan-bakar fossil menjadi “gerak”, dikenal dengan
singkatan: PPG (TMC), pertama kali digunakan manusia di muka bumi diperkenalkan
oleh James Watt (1736-1819) dari Inggris, berwujud “kemasan xy”, diman: x = periuk/bejana tempat bertanak
air untuk menghasilkan uap-bertekanan atau uap yang mempunyai “tenaga potensial”,
memanfaatkan panas hasil pembakaran bahan-bakar padat, dan y = pasangan silinder-pengisap berikut lengan dan poros-engkol untuk
mengubah tenaga potensial uap menjadi gerakan putar. Jean Joseph Etienne Lenoir
(1822-1900) dari Belgia, selanjutnya memperkenalkan STG “kemasan y”
dengan pemantik. Mengapa kemasan y
dapat bekerja, karena gas bertekanan yang mendorong pengisap kebawah, dapat dihasilkan
dalam sekejap dengan “pemantik” yang membuat campuran uap-bensin dengan udara berada
dalam silinder mesin meletus dan membebaskan “panas”. Peman-tikan kemudian disempurnakan
oleh Otto mem-perkenalkan “listrik”, melahirkan kemasan y ber- pemantik listrik (electric ignition). Rudolf Diesel juga
dari Jerman kemudian memperkenalkan pula
STG kemasan y “berpemantik kempa” (compression ignition) memanfaatkan bahan-bakar
cair yang di Indonesia dinamakan orang solar (diesel fuel).
B. STG Hasil Reaksi
Kimia
Kemasan xy yang diperkenalkan James Watt
(1736-1819), lalu berkembang, dengan menukar pasangan silinder pengisap berikut
lengan dan poros engkol, dengan sebuah turbin-uap memutar generator. Lahir
dengan demikian Pusat listrik Tenaga Uap (PLTU) berbahan-bakar fossil (BBP,
BBC, BBG). PLTU kini banyak dimanfaatkan untuk membangkitkan tenaga listrik yang
dibutuhkan banyak negara, mulai yang maju hingga dengan yang masih berkembang di
muka bumi ini untuk menggairahkan perekonomian beragam bangsa.
Kemasan y diperkenalkan oleh Jean Joseph Etienne
Lenoir (1822-1900) juga ikut berkembang,
dengan menukar pasangan silinder pengisap berikut lengan dan poros-engkol
dengan sebuah turbin-gas yang juga memutar generator. Lahir Pusat listrik
Tenaga Gas (PLTG) dilanjutkan Pusat Listrik Tenaga Gas Uap (PLTGU) demi meningkatkan
daya-guna. Keduanya membakar bahan-bakar asal gas alam (natural gas) menyediakan
tenaga listrik yang diperlukan perekono-mian beragam bangsa di bumi. PLTG dan
PLTGU dapat memasok tenaga listrik jauh lebih cepat ketimbang PLTU dalam meningkatkan
produksi tenaga listrik suatu negara. Kemasan y dengan turbin-gas, juga ternyata dapat mengembangkan mesin
pesawat-terbang yang dikenal dengan istilah: turbo-prop, torbo-jet, dan
turbo-fan, penghasil “gaya tarik”, “gaya dorong”, atau keduanya besar dalam satuan
metric-ton, yang diperlukan angkutan udara untuk penumpang dan barang lintas
benua. Mesin-mesin: turbo-prop, torbo-jet, dan turbo-fan dalam waktu singkat lalu
menjelma menjadi tulang punggung transportasi udara dalam negeri dan internasional
beragam Negara di muka bumi.
C. STG Elemen Kimia
Selain “panas” yang
diubah menjadi gerak, dilakukan Pengubah Panas Gerak (PPG) atau Thermo Mechanic
Conversion (TMC), yang diperkenalkan revolusi industri berangkat dari ilmu alam
(fisika), “listrik” juga dapat diubah menjadi gerak berangkat dari disiplin ilmu
yang sama, dikenal dengan Pengubah Listrik Gerak (PLG) atau Electro Mechanical
Conversion (EMC). Dengan demikian dengan sebuah elemen kimia juga boleh
dikembangkan kemasan xy PLG (EMC), dimana:
x = elemen kimia yang menghasilkan tenaga
listrik, dan y = mesin listrik yang
mengubah listrik menjadi gerakan putar.
D. STG Sel
Bahan-Bakar
STG elemen kimia yang
sedang mengemuka, ialah gagasan John Bockris muncul di Pusat Teknik General
Motor Amerika Serikat pada tahun 1970 silam. Dari kemasan xy PLG (EMC), disini: x =
Sel Bahan-Bakar (SBB) yang menghasilkan tenaga listrik mengalirkan BBH kedalamnya
dan tidak melaksanakan pembakaran samasekali, dan y = mesin listrik yang mengubah listrik menjadi tenaga gerakan
putar.
E. Panas Reaksi
Nuklir
Albert Einstein dari
Amerika Serikat, pada tanggal 26 September 1905, mengumumkan kepada dunia apa
yang disebut dengan “theori relativitas” bersama formula: E = mc²
yang amat tersohor. Apa sesungguhnya yang ia ingin sampaikan kepada semua orang
di muka bumi ketika itu, ialah: “benda” (materi) dan “tenaga” (energy) dapat
dipertukarkan, sehingga “tenaga” dapat dihasilkan dengan menghilangkan benda
dari Alam Semesta, dan begitu pula sebaliknya. Dengan theori relativitasnya,
Einstein juga ingin menyampaikan kepada umat di dunia, bahwa terdapat tenaga
(energy) yang begitu melimpah di Alam Semesta, wabilkhusus di muka bumi, sehingga
orang tidak perlu cemas kekurangan. Yang menjadi persoalan pada ketika itu ialah
bagaimana menge-tahuinya? Dan untuk yang akhir ini, harus dibuktikan dengan
percobaan. Maka pada tanggal 16 Agustus 1945, sebuah “bom-atom” pertama dicoba “Proyek
Manhattan” bekerjasama dengan Angkatan Darat Amerika Serikat di White Sands Pro-ving
Ground, Jonada del Muerto, 56 km Tenggara Socorro, Padang Pasir New Mexico, dan
berhasil.
Lalu pada tahun 1952,
sebuah “bom-hidrogen” pertama juga dicoba di Bikini Atoll dalam gugusan
Kepulauan Marshall yang terdiri dari 23 pulau kawasan Pacifik; juga berhasil.
Kedua bom ini menghasilkan “panas” bukan dari “reaksi kimia” (chemical
reaction) hasil pembakaran bahan-bakar fossil sebagaimana yang sudah dikenal
orang sejak awal revolusi industri di Eropa silam, akan tetapi dari apa yang
kemudian dinamakan: “reaksi nuklir” (nuclear reaction), juga disebut: “reaksi
inti”.
Kini orang sudah mengetahui
dua sumber panas (heat), dari reaksi inti, masing-masing: “reaksi belah inti” (nuclear
fission reaction) juga dinamakan “reaksi nuklir fisi”, karena “inti atom berat”
seperti uranium memang dibelah oleh benturan neutron menjadi “atom-atom ringan”
menye-babkan “bom-atom” meletus; dan “reaksi
gabung inti” (nuclear fusion reaction) juga dinamakan “reaksi nuklir fusi”, karena
inti-inti isotop hidrogen ringan memang digabung oleh temperatur re-aksi yang sangat
tinggi, mendekati suhu di pusat matahari, menyebabkan “bom-hidrogen” me-letus.
Perlu diketahui, bahwa pada reaksi belah inti akan timbul sinar-sinar
radioaktif berbahaya: alpha, beta, dan gamma berkepanjangan; sedangkan pada “reaksi
gabung inti” tidak timbul sinar-sinar radioaktif samasekali. Sebagai akibat
dari terbelah-nya inti atom berat, begitu juga terga-bungannya isotope inti-inti
atom ringan; sebagian “massa” atom-atom yang terlibat akan lenyap atau hilang
dari Alam Semesta, lalu berubah menjadi “panas” (kalor) sebagaimana yang disam-paikan
dalam persamaan Einstein.
Theori relativitas Albert
Einstein, membuat semua orang di muka bumi kini mengenal dua macam sumber
“panas” (heat), masing-masing: “panas” dari hasil pembakaran atau reaksi kimia,
seperti: membakar kertas, kayu, bahan-bakar fossil, sampah, dan lain sebagainya,
dan “panas” hasil reaksi nuklir. Adapun
yang dimaksud dengan reaksi nuklir, seperti: pembelahan inti atom berat, seperti
uranium yang ditembaki neutron dinamakan juga reaksi fisi; atau penggabungan
inti-inti isotop atom ringan, seperti: isotop hidrogen dinamakan reaksi fusi.
Kedua reaksi nuklir ini menyebabkan sebagian “massa atom” terlibat dalam
sekejap lenyap atau hilang dari Alam Semesta, lalu tiba-tiba digantikan “panas”
menurut persamaan Eistein.
Panas yang dibebaskan
reaksi nuklir belah atau fisi, pasca Perang Dunia Ke-II, menimbulkan Pusat
Listrik Tenaga Nuklir Fisi (PLTN-Fi). Dari kemasan xy, panas belah nuklir-gerak (thermo nuclear fission-mekanik), disini:
x = Reaktor Air Tekan (RAT) atau Pressure
Water Reactor (PWR), bertindak sebagai periuk untuk menanak
air yang menghasilkan uap-bertekanan asal re-aksi fisi, dan y = pasangan turbin generator
yang menghasilkan tenaga listrik; disusul Pusat Listrik Tenaga Nuklir Fusi
(PLTN-Fu) kemasan xy panas gabung
nuklir-gerak (thermo nuclear fusion-mekanik), disini: x = sebuah bejana yang dinamakan TOKAMAK bertindak sebagai periuk
tempat bertanak air yang menghasilkan uap-bertekanan dari reaksi fusi, dan y = pasangan turbin
generator yang menghasilkan tenaga listrik,
kini sedang
dikerjakan sejumlah negara maju di Cadarache, Perancis Selatan.
Kepadatan tenaga panas yang dibebaskan
sebuah “reaksi nuklir” jauh lebih besar dari kepadatan tenaga panas sebuah
“reaksi kimia”. Kepadatan tenaga sesuatu ragam bahan bakar per satuan massa
dinamakan “tenaga jenis” bahan bakar yang dibicarakan. Sebagai contoh: uranium
(pem-biak) memiliki tenaga jenis setara 1,539,842,000 MJ/L, akan tetapi bensin
(gasoline) hanya me-nyimpan tenaga jenis hanya 32.4 MJ/L. Itulah pula alasannya
mengapa reaksi nuklir, baik peme-cahan maupun penggabungan, jauh sangat perkasa
ketimbang reaksi kimia yang telah dikenal selama ini, dan hal ini pun sudah
ditunjukkan oleh bom atom dan bom hidrogen yang amat menakutkan umat darii
seluruh dunia.
F. Reaksi Nuklir Gabung
Dingin
Dari
sejumlah percobaan yang dilangsungkan Stanley Pons dan Martin Fleischmann pada
tahun 1989, sekelompok komnitas kecil peneliti mendalami lebih jauh apa yang
dinamakan: reaksi gabung dingin (cold fusion reaction), dan kini lebih menyukai
menggunakan istilah: Reaksi-
reaksi Nuklir Tenaga-Rendah, disingkat RNTR. ( Low-Energy Nuclear Rreactions, disingkat LE-NR) yang dapat
menyediakan air panas, bahkan uap bertekanan dalam bejana dapat digunakan menggerakkan
turbin untuk memutar generator listrik.
Dari kemasan xy, dalam hal ini: x = RNTR yang menghasilkan uap bertekanan, dan y = turbin uap yang menggerakkan generator pembangkit tenaga
listrik, layaknya sebuah PLTU.
Umat di muka bumi
lalu bermimpi menantikan ditemukan Elemen Reaksi Gabung Dingin disingkat ERGD
(Cold Fusion Reaction Element, disingkat CFRE), sebentuk Batere Umur Pan-jang
(BUP), yang dapat dibeli orang suatu ketika bersama: sepeda motor, mobil, dan lain
seje-nisnya, termasuk BUP yang listriknya akan habis bersamaan dengan lama
pakai ekonomis ken-daraan, misalnya: 5 atau 10 tahun, lalu ERGD bersama
kendaraan di daur ulang lagi.
G. Tanaga Terbarukan
a.
Peladangan Sinar Matahari
Kemasan xy lain, yang berkembang pesat di berbagai
negara guna meringankan pencemaran atmosfer bumi yang telah timbul, orang memperkenalkan
apa yang kemudian dinamakan dengan istilah “tenaga terbarukan” (renewable
energy). Adapun contoh tenaga yang kian digandrungi umat dari beragam belahan
bumi, ialah memanen sinar matahari langsung yang diubah menjadi listrik menggunakan
pengubah fotovoltaik (photovoltaic converter). Dari kemasan xy, disini: x = sinar matahari, dan y
= pengubah fotovoltaik. Lahirlah “peladangan sinar matahari” yang mengu-bah “cahaya
matahari” langsung menjadi “listrik” diawali dari Eropa, lalu menyebar ke
Amerika Utara, dan Asia; diawali dari daratan hingga lepas pantai, pada kawasan
muka bumi dimana terdapat banyak hari dengan matahari yang bersinar terang
sepanjang tahun. Sebuah peladangan sinar matahari dapat dimulai dari sejumlah papan
(panel) surya hingga ribuan bahkan lebih banyak lagi papan, melahirkan apa yang
kemudian dinamakan: Pusat Listrik Tenaga Sinar Matahari (PLTSM).
Sebuah keluarga yang
melakukan peladangan sinar matahari seputar kediaman, mulai atap sampai halaman rumah, dapat memenuhi kebutuhan
listrik sendiri. Tampaknya keluarga demikian masih memerlukan sambungan listrik
PLN kebutuhan malam hari apabila matahari
terbenam, manakala keluarga tadi belum memiliki instalasi batere yang menyimpan
tenaga listrik. Apabila keluarga dibicarakan menghasilkan listrik lebih dari
keperluan, sisanya dapat dijual langsung ke PLN, sehingga rekening listrik keluarga
untuk pemakaian malam hari dapat menja-di
jauh lebih murah.
b.
Peladangan Angin
Tenaga terbarukan lain
mudah diketahui keberadaannya ialah angin. Dari kemasan xy, disini: x = aliran molekul
udara, karena permukaan bumi mendapat pemanasan matahari, dan y = baling-baling udara mengubah gerakan
molekul udara (tenaga kinetik) menjadi gerakan putar baling-baling udara yang
menggerakkan generator listrik. Aliran udara yang berubah menjadi poros
berputar memanfaatkan hukum aerodinamika yang dikenal luas. Dengan demikian muncul
pula peladangan “tenaga angin” diawali dari Eropa, lalu menyebar ke Amerika
Utara, dan Asia, mulai daratan hingga dengan
lepas pantai, dimana terdapat banyak hari angin berhembus sepanjang tahun. Peladangan
angin dilakukan dengan membangun menara tinggi, di puncak mana baling-baling
udara ber daun: dua, tiga, dan seterusnya diletakkan, dan dapat berputar untuk meng-gerakkan
sebuah generator listrik. Suatu perkebunan tenaga angin dapat memuat puluhan,
ratusan, bahkan ribuan menara tinggi dengan baling-baling udara diuncaknya menggerakkan
generator listrik yang terhimpun dalam kerja paralel; dinamakan: Pusat Listrik
Tenaga Angin (PLTAn).
c.
Peladangan Panas Matahari
Tenaga terbarukan
lain yang juga telah digunakan di Spanyol bernama: Solaben 200 MW, tidak lain
dari panas matahari yang tiba di muka bumi. Kini sebuah proyek Desertec tengah
digagas membangkitkan daya: 100.000 MW tengah dirancang di: Moroko,
Yordania, Tunisia, Mesir, dan Aljazair untuk dikirim ke Eropa yang lapar daya lewat
tegangan tinggi juga memanfaatkan panas matahari panas matahari tiba di muka bumi. Apa yang sesungguhnya
dikerjakan orang disini tidak lain mewujudkan sebuah PLTU, hanya “panas” yang
dimanfaatkan langsung datang dari matahari tiba di muka bumi dalam delapan
menit. Dari kemasan xy, disini: x = ialah periuk (boiler) tempat
bertanak air menghasilkan uap bertekanan terdapat di tengah-tengah PLTU dan dikelilingi
ribuan cermin, dan y = turbin uap bekerja
mengubah tenaga potensial uap menjadi gerakan putar turbin-uap yang memutar
generator listrik. Setiap saat, sejak matahari terbit di ufuk Timur hingga
tenggelam di bagian Barat, ribuan cermin terpasang harus diatur kedudukan-nya satu
persatu sebegitu rupa, sehingga panas matahari dipantulkannya selalu tetuju ke
periuk (boiler) berada di suatu ketinggian. Sebagai akibatnya, suhu periuk
(boiler) menjadi sangat panas menyebabkan air didalamnya langsung mendidih
menghasilkan uap bertekanan yang dibutuhkan menggerakkan turbin-uap. Yang akhir
ini lalu menjalankan generator listrik. Lahir dengan demikian Pusat Listrik
Tenaga Panas Matahari (PLTPM).
d.
Peladangan Panas Bumi
Panas bumi dekat dari
permukaan, sebagaimana yang dijumpai di daerah pegunungan juga seputar gunung
berapi masih aktif atau lainnya, juga tergolong tenaga yang terbarukan. Apa
yang dilakukan orang disini juga membuat sebuah PLTU, hanya saja “panas” digunakan
datang dari dalam perut bumi peroleh langsung atau tidak-langsung. Dari kemasan
x-y, disini: x = periuk (boiler) tempat bertanak air menghasilkan
uap-bertekanan, dalam hal ini “panas” didatangkan dari dalam perut bumi
dengan cara mengebor sampai ke sumber panas. Ada kalanya uap-berteka-nan tidak segera
keluar dari dalam perut bumi setelah pengeboran sampai ke sumber panas, maka dalam
keadaan demikian air-bersih harus disuntikkan ke sumber panas untuk memperoleh uap
bertekanan, dan y = turbin uap untuk
mengubah tenaga potensial uap menjadi gerakan putar turbin-uap yang memutar
generator listrik. Lahir dengan demikian Pusat Listrik Tenaga Panas Bumi
(PLTPB).
e.
Tenaga Air
Tenaga terbarukan
yang telah banyak digunakan orang di beragam belahan bumi sejak dari dahulu kala ialah tenaga air. Tenaga air bersumber
dari matahari memanasi permukaan bumi, menyebabkan air yang ada dipermukaan
menguap lalu naik ke awan. Yang akhir ini lalu dibawa angin ke segala penjuru,
dan setelah dingin kembali menjadi air yang jatuh kembali ke bumi sebagai
hujan. Terdapat dua golongan tenaga air yang diperoleh dari hujan,
masing-masing: “tenaga potensial” karena air terhimpun ke dalam: kolam, waduk,
danau, waduk, sungai, dan lainnya terletak pada suatu ketinggian diatas
permukaan laut, dan aliran air deras dari beragam jeram sungai yang menyimpan
“tenaga kinetik. Tenaga air golongan pertama tergantung dari hasilkali: Q.l, dimana: Q menyatakan aliran (debit) air dalam m3/det,
sedangkan l (m) adalah ketinggian jatuh air; sementara untuk yang
kedua, yakni air deras juga tergantung juga dari Q (m3/det), dan
kecepatan air mengalir dalam v
(m/det). Terhadap golongan pertama, untuk kema-san xy, disini: x = aliran
air (Q) dengan tinggi jatuh l (m), sedangkan
y = baling-baling atau tur-bin air digunakan
mengubah tenaga potensial air menjadi putaran poros turbin-air yang menggerakkan
generator listrik menerapkan hidrodinamika. Lahir dengan demikian Pusat Listrik
Tenaga Air (PLTA).
Tergantung hasil kali
Ql diperoleh, PLTA dibedakan kedalam: daya amat besar, daya besar, daya menengah, daya sedang, daya kecil, dan
daya sangat kecil. Dan yang akhir ini dikenal dengan istilah PLTA-mikro, dan dikenal
di Tanah-air dengan istilah: “mikro-hidro”. Untuk golo-ngan kedua, terhadap kemasan
xy, disini: x = aliran air (Q) dengan kecepatan aliran air v (m/det), dan y =
baling-baling yang digunakan mengubah tenaga kinetik air menjadi putaran
turbin-air yang menggerakkan generator listrik memanfaatkan hidrodinamika,
dinamakan PLTAir Deras, disingkat (PLTAD).
f.
Tenaga Gelombang
Angin
yang berhembus berkesinambungan di muka laut atau samudra akan melahirkan gelom-bang
air berjalan yang akhirnya menghempas di pantai. Gulungan gelombang air laut
bergerak menuju pantai ini tergolong kedalam tenaga terbarukan. Banyak negara khususnya
yang sudah maju telah memanfaatkan gelombang air laut guna menghasilkan listrik
yang diperlukan mercu suar, juga kelompok masyarakat terpencil berdiam di tepi pantai,
dan lainnya. Dari kemasan xy, disini:
x = gelombang air laut bergerak, dan y = pengubah tenaga gelombang air
menjadi gerak menerapkan aerodinamik, atau hidrodinamika, atau gabungan
keduanya. Lahir dengan demikian Pusat Listrik Tenaga Gelombang Air Laut (PLTGAL).
g.
Tenaga Arus Bawah Laut
Arus-arus air laut hingga
samudra terdapat di dasar laut sampai samudra juga termasuk tenaga terbarukan yang
dapat diubah menjadi listrik. Sumber tenaga terbarukan ini telah pula dilirik berbagai
negara maju guna diubah menjadi listrik demi menurunkan pencemaran atmosfer
bumi. Dari kemasan xy, disini: x = arus bawah laut hingga samudra muncul
oleeh perbedaan suhu air di permukaan laut dengan suhu air laut pada kedalaman
tertentu, dan y = baling-baling air untuk
mengubah gerakan molekul air (tenaga kinetik) menjadi gerakan putar baling-baling
air yang memutar generator listrik menerapkan hidrodinamika. Dengan demikian,
penambangan tenaga arus air-laut dalam berkembang, lalu menyebar ke segala
penjuru dunia dimana terdapat sumber-sumber arus bawah laut hingga samudra yang
dapat ditambang. Lahir dengan demikian Pusat Listrik Tenaga Arus Bawah Laut
Dalam (PLTABLD).
h.
Tenaga Suhu Air Laut
Perbedaan suhu air
laut dan samudra di permukaan dengan suhu air laut hingga samudra yang ada di suatu
kedalaman, kini telah dimanfaatkan untuk membangkitkan tenaga listrik. Cara pe-ngubahan
diterapkan sebagaimana juga di PLTU, karena perbedaan suhu air laut samasekali ti-dak
memerlukan penggunaan bahan-bakar, sehingga juga digolongkan pada tenaga yang terbaru-kan.
Dari kemasan xy, disini: x = perbedaan suhu air laut, dan y = turbin-uap yang digunakan mengubah uap bertekanan menjadi gerakan putar turbin
menjalankan generator listrik. Lahir dengan demikian Pusat Listrik Tenaga Suhu Air
Laut (PLTSAL).
i.
Tenaga Kilat
Kilat yang sambar-menyambar
di angkasa, tidak diragukan lagi listrik bertenaga besar karena tegangannya amat
tinggi: “jutaan volt” dan arus mengalir yang juga besar: “ribuan Ampere”, karena
yang akhir ini dapat menghanguskan pohon kayu besar jadi arang. Perlu diketahui
“kilat” ialah juga “petir”, hanya saja bedanya: yang pertama apa yang dilihat
oleh mata, sedangkan yang kedua yang didengar
oleh telinga. Dengan tegangan yang demikian tinggi, kilat dapat menyam-bar
kemana-mana di angkasa, baik antara awan dengan awan saat muatan listrik keduanya
berlawanana, maupun antara awan dengan bumi ketika muatan listrik keduanya berlawanan.
Kilat yang sambarmenyambar antara awan dengan awan berbeda muatan di angkasa
tidak dapat ditangkap, akan tetapi kilat dari awan yang menyambar bumi dapat ditangkap
untuk dimanfa-atkan untuk dipanen listriknya. Bermaca percobaan telah dilakukan
di sejumlah negara maju, tidak terkecuali Indonesia, memancing kilat meluncurkan
roket berekor logam menuju awan yang bermuatan untuk memperoleh listriknya. Listrik
kilat dapat digunakan untuk mengurai air menjadi Hidrogen dan oksigen, juga
untuk menyediakan air panas, da lain sebagainya. Penelitian dan pengujian terus
berlangsung dimana-mana di muka bumi, akan tetapi belum lagi dapat diktahui
bila sebuah Pusat Listrik Tenaga Kilat (PLTK) akan diwujudkan.
Kesimpulan
Dari apa yang telah dikemukakan
diatas tampak jelas, bahwa: “panas” diperoleh dari reaksi kimia, termasuk juga pengembangan
sejak awal revolusi industri lebih dari dua abad silam, telah menjadi penyebab utama
pencemaran atmosfer menyelimuti planit biru tempat manusia berdiam, ditimbulkan
pembakaran bahan-bakar fossil: BBP, BBM, dan BBG digali dari dalam perut bumi.
Pencemaran atmosfer diperparah pula oleh “daya-guna” (efisiensi) PPG (TMC) yang
rendah, untuk MPD sekitar 25% sehingga sebagian besar (75%) panas hasil
pembakaran bahan-bakar hanya terbuang percuma untuk memanasi udara sekitar. Manakala
digunakan bahan-bakar nabati (biofuel) atau biomasa (biomass), pencemaran unsur
belerang atau sejenisnya memang akan hilang, akan tetapi efisiensi yang diraih tetap
sama saja. Tampaknya, STG menggunakan panas hasil reaksi kimia atau pembakaran bahan-bakar
fossil perlu dihilangkan dari muka bumi kedepan, guuna menghindarkan pencemaran
atmosfer yang tidak lagi diinginkan timbul di muka bumi.
Dilain fihak, listrik
diperoleh dari elemen kimia perlu
mendapat perhatian. Pengubah Listrik Gerak (PLG) atau Electro Mechanic
Conversion (EMC), mmberi banyak pilihan lagi beragam, dan tidak menimbulkan
pencemar yang mengotori atmosfer bumi samasekali. Demikian pula tenaga listrik
diperoleh dari sel bahan-bakar memanfaatkan bahan-bakar hidrogen. Untuk mem-peroleh
tenaga gerak, sebuah mesin listrik perlu bekerjasama dengan elemen kimia agar gerakan
putar diperoleh. Perlu dicatat, mesin listrik mempunyai efisiensi tinggi dalam mengubah
listrik menjadi tenaga gerak, sekitar 85%,
lebih dari “tiga kali” efisiensi MPD. Dengan demikian tidak diperlukan
lagi menggali bahan-bakar fossil menuju perut bumi ribuan meter dalamnya, karena
elektrolit mudah didapat dari di permukaan bumi kedalaman kurang dari 100 m.
Dalam memandu manusia
hijrah dari STG yang membakar bahan-bakar fossil ke STG listrik memanfaatkan elemen
kimia di kawasan Asia Tenggara dan bagian dunia lain, perlu dimulai de-ngan memperkenalkan
“proyek penyuluhan” (pilot project) yang diberi nama: Tenaga Bersih Untuk Bumi, disingkat TBUB (Clean Energy For Earth,
disingkat CEFE), dan melaksanakan perjalanan “long marsh” diawali dari desa yang
menuju kota di berbagai tempat di muka bumi ini.
Kaum remaja mulai
dari mesjid hingga dengan agama lainnya mendapat bimbingan dari para penyuluh mesjid
hingga dengan kepercayaan lain, melakukan pencarian elektrolit diperlukan
dengan pasangan elektroda yang dibutuhkan. Untuk bahan elektrolit dapat diambil
cairan bera-gam tanaman yang tumbuh di seputar kampung diperas dari aneka ragam:
buah, daun, dan batang; demikian juga yang didapat dari berjenis hewan dan
manusia. Para penyuluh men-jelaskan kepada para remaja apa yang dimaksud: tegangan listrik dalam volt (V) yang dibang-kitkan
dua logam berlainan jenis yang dicelupkan kedalam cairan elektrolit, juga menerangkan:
arus listrik dalam ampere (A)
mengalir melalui bola lampu yang sedang menyala. Tegangan dan arus ini merupa-kan
dua besaran listrik yang menentukan daya
listrik dalam watt (W) yang dihasilkan oleh sebuah elemen kimia.
Apa yang perlu dikerjakan
kaum remaja masjid dan kepercayaan lainnya ini ialah usaha awal untuk mencari cairan
elektrolit beserta pasangan logam yang membangkitkan tegangan listrik paling
besar. Yang akhir ini menjadi kunci daya dihasilkan yang lebih besar, sedangkan
arus mengalir tergantung dari daya lampu
diunakan. Untuk yang pertama kaum remaja dapat meng-gabungkan sejumlah elemen
kimia kedalam hubungan seri, agar lampu yang terpasang menyala lebih terang. Dengan
modal elektrolit dari kampung sendiri, pasangan logam dan bola lampu listrik didapat
dari kota, para remaja desa dapat mengganti lampu minyak-tanah, begitu juga lampu minyak-kelapa menghitamkan hidung di
pagi hari, dengan lampu listrik elemen kimia yang bersih. Kelak, kaum remaja
yang telah terbentuk rasa ingin tahu mereka, dengan tujuan mengurangi pencemaran atmosfer bumi, akan berkembang
menjadi para pengembang elemen-elemen kimia maju berdaya besar yang ramah
lingkungan untuk menyelamatkan atmosfer bumi dari pencemaran pembakaran bahan
bakar fossil.
Panas hasil reaksi
nuklir yang diubah menjadi listrik semakin banyak digunakan perekonomian berbagai
negara maju guna memenuhi keperluan:: industri, transportasi, pemukiman, dan
banyak lagi lainnya, kendati masih dibayangi bahan radioaktif berbahaya yang bocor
dari Pusat Listrik Tenaga Nuklir Fisi (PLTNFi) menuju lingkungan hidup. Di
fihak lain usaha mengembangkan Pusat
Listrik Tenaga Nuklir Fusi (PLTNFu) yang tidak menimbulkan bahan radioaktif
berbahaya, dibangun bersama oleh
sejumlah negara. Banyak penelitian yang perlu dilakukan untuk menghindarkan
dampak negatif yang timbul dari PLTNFi di muka bumi kedepan.
Tenaga listrik dibangkitkan
“reaksi gabung dingin” (cold fusion reaction) merupakan harapan umat untuk membuat
STG keperluan beragam kendaraan bermotor yang tidak mencemari atmos-fer bumi. Belum
dapat diketahui berapa banyak penelitian, pengujian, dan evaluasi hasil yang harus
dilakukan untuk menemukan pilihan yang dapat menurunkan tingkat pencemaran
lingku-ngan hidup yang sudah timbul di muka bumi sejak awal revolusi industri
silam, tidak terkecuali menghilangkan akibat buruk yang sudah ada. Kini
terbentang dihadapan generasi muda umat A-sia Tenggara, demikian pula bagian dunia
lain yang kian besar jumlahnya, tantangan menjadi “khalifah” sebenarnya di muka
bumi untuk membentengi planit dari limbah gunung-api buatan manusia yang tidak
mengenal berhenti meletus. Harus ditemukan dari SDA muka bumi, berikut keanekaragamannya,
mulai: mineral, logam, dan lain sebagainya hingga elektrolit terbaik yang dibutuhkan
untuk membuat elemen kimia membangkitkan tenaga listrik diubah menjadi gerak
oleh mesin listrik, keperluan aneka ragam industri dan lainnya, tidak
terkecuali menggerakkan sarana angkutan: darat, laut, udara, hingga dengan
angkasa.
Terhadap tenaga
terbarukan, dengan sendirinya dapat dipanen dimana saja di muka bumi dengan
bebas, sejauh potensi yang ada dapat diusahakan secara ekonomis, karena sumber tenaga
terba-rukan tidak membakar bahan-bakar
apapun jenisnya, dan tidak pula mencemari lingkungan hidup di muka bumi bentuk apapun
terhadap atmosfer yang mengitari planit biru ini.
Kembali Ke Rumah
Ilahi
Setelah lebih dari dua
abad berlangsung, revolusi industri lalu menimbulkan perubahan iklim nyata di permukaan
bumi, oleh aliran benda (materi) dari dalam perut bumi yang menuju ke permukaan
berlangsung tanpa henti menelusuri waktu sampai dengan hari ini; jumlahnya meningkat terus dan ragamnya bertambah. Umat manusia
menjadi sadar, bahwa aliran benda (materi) ini tidak hanya membuat pencemaran terhadap
lingkungan hidup yang makin parah, juga memberi
dampak buruk terhadap ekosistem permukaan bumi, kini juga mengganggu kesehatan umat
di berbagai kawasan di permukaan planit ini. Itulah sebabnya, mengapa “langkah nyata”
harus diambil untuk mengatasinya dengan menghilangkan pengaruh pencemaran sama-sekali.
Keadaan lingkungan hidup yang ingin diraih di muka bumi, ialah sebelum revolusi
industri dimulai di Eropa silam, bahkan keadaan yang lebih baik dari itu.
Rumah Ilahi bagi umat
Islam, begitu juga dari kepercayaan lain yang ada di muka bumi yang telah dipilihNya,
diasuh para rohaniawan dan rohaniawati yang telah mendapat petunjukNya,
sebagaimana yang telah dikemukakan sebelumnya, merupakan garis depan, dimana umat
berhu-bungan langsung dengan para wakilNya di muka bumi. Untuk mereka yang
beragama Islam, ialah para Imam (Pengurus) Mesjid berikut jajarannya, sedangkan
untuk kepercayaan lain para rohaniawan dan rohaniawati kepercayaan bersangkutan.
Demikian awalnya gagasan berdirinya mesjid bagi umat Islam diperkenalkan oleh Nabi
Muhamad SAW silam, juga dikehendakinya berlangsung sampai akhir zaman. Kini
timbul pertanyaan, bagaimana “langkah
nyata” itu harus dilakukan?
Dalam
Surat ke-13 Ar-Rad (Guruh), Ayat 11, telah disampaikan:
Bagi manusia ada
malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, dimuka dan
dibela-kangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah767.
Sesungguhnya Allah tidak mengubah kea-daan suatu kaum, sehingga mereka merobah
keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.768 Dan apabila Allah
menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat meno-laknya;
dan sekalikali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.
767 Selain yang menjaga,
ada juga malaikat yang mencatat, dan namanya Hafazhah
768 Tuhan tidak akan
merobah keadaan mereka, selama mereka tidak merobah sebab-sebab ke-
munduran mereka.
Sebuah Intermeso
Suatu malam di
Jakarta, televisi Al-Jazeera dari Qatar menyiarkan laporan tentang operasi jan-tung
berlangsung di sebuah Rumah Sakit India. Negara yang sebahagian besar warganya
bera-gama Hindu lebih dari dua ribu tahun usianya, menimbulkan budaya dan
adat-istiadat unik dan sangat menarik di bumi. Itulah sebabnya mengapa banyak wisatawan
dari beragam negara berkunjung ke India
untuk mengetahui dan menikmatinya; tidak terkecuali para “turis berobat”
(medical tourism), untuk menjalani operasi jantung dari beragam bangsa.
Menjelang operasi di-langsungkan, pasien dan keluarga disambut dahulu dengan acara
keagamaan dipimpin seorang pendeta Hindu berikut para dokter yang melakukan
operasi jantung termasuk para stafnya dan satuan perawat akan terlibat. Operasi
jantung serius kemudian dilangsungkan memperagakan semua kecanggihan ilmu dan
teknik kedokteran mutakhir tampak sederhana. Setelah beberapa lama operasi
jantung selesai, pasien pun siuman. Ketika pertanyaan diajukan, bagaimana rumah
sakit negeri Mahatma Gandi itu bisa terkenal di muka bumi dengan prestasi lebih
dari 5000 operasi jantung per tahun, Dr Devi Shetti pemimpin rumah sakit
jantung tersohor itu mengata-kan bahwa, ia terinspirasi oleh kata-kata Ibu
Theresa, biarawati Katholik asal Hongaria yang menghabiskan hampir seluruh hidupnya menolong
orang-orang yang tidak mampu di India. Biarawati itu pernah berkata padanya pada
suatu ketika, bahwa:”dibalik bibir-bibir yang fasih memanjatkan doa, harus terdapat
tangan-tangan cekatan dengan jemari terampil yang menger-jakan”.
Apa Yang Harus
Dilakukan?
Revolusi industri di
Eropa lebih dari dua abad silam, tidak diragukan lagi bertujuan untuk mengganti
sistim kemasyarakatan lama yang tidak lagi sesuai dengan keadaan ketika itu,
dengan yang baru dan lebih baik. Sebuah revolusi apapun ragamnya akan tunduk kepada
aturan umum yang mengatur, yakni:
revoltare dan revolvere.
Revoltare ialah bagian dari sebuah revolusi bertugas menumbangkan sistim
kemasyarakatan lama yang tidak lagi sesuai dengan keadaan, sementara revolvere ialah
sistim kemasyarakatan baru lebih baik dari sebelumnya untuk meng-gantikan.
Keberhasilan suatu revolusi dalam perjalanan waktu ditentukan revolvere yang
berhasil mengubah keadaan sebelum revoltare dimulai, karena manakala tidak
kekacauan (khaos) akan timbul, dan mengorbankan mereka yang terlibat menggerakkannya.
Setelah revolusi industri berlangsung lebih dari dua abad di bumi,
lingkungan hidup di planet ini masih dalam keadaan revotare. Ini dapat
disaksikan dari pencemaran di muka bumi yang sema-kin memburuk menelusuri
waktu, meski telah tampil kesadaran umat akibat dari pencemaran yang
ditimbulkan oleh revolusi industri buatan manusia dan upaya manusia untuk memperbai-kinya.
Bermacam usaha telah dibuat untuk mengatasinya, meski belum mencukupi mengingat
revolusi industri telah berlangsung dalam hitungan abad. Sebagaimana yang telah
dikemukakan sebelumnya, yang hendak dicapai ialah keadaan sebelum revolusi
industri dimulai silam, bahkan yang lebih baik dari itu, sebagaimana yang dimaksud
revolvere yang tidak dapat ditawar.
Untuk memulihkan “kehidupan
kaum”, sebagaimana disampaiakn Surat: Ar-Rad (Guruh), Ayat 11, umat perlu
menyimak pada perjalanan filsafat Islam yang telah berkembang dari Irak hingga
Andalusia, dilanjutkan ke Eropa, yang menyebabkan di bagian dunia ini bersemi pengetahuan
tepat guna yang mengantarkan umat mencapai peradaban saat ini. Pengetahuan “tepat
guna” bersama “analisa ilmu” dikembangkan, mengantarkan umat membuat STG (MES) menggunakan
“bahan-bakar fossil” keperluan bermacam industri termasuk transportasi yang menimbulkan
ali-ran benda (materi) dari dalam perut bumi menuju permukaan bumi mencemari
lingkungan hidup manusia berabad lamanya hingga hari ini; maka dengan filsafat
Islam yang sama namun dari sudut pandang berlawanan, memanfaatkan STG (MES)
listrik beragam “elemen kimia” bersama pengembangannya, harus menghentikan
aliran benda (materi) dari dalam perut bumi menuju permukaan yang mencemari
lingkungan hidup umat, sekaligus meyiapkan Cadangan Berputar, dinamakan Bank
Bahan Baku (BBB).
Apa yang ingin dicapai
filsafat Islam sudut pandang baru ialah, agar setiap anak Adam yang hidup di
muka bumi sadar dan menerima akal sehat yang terdapat di dalamnya, karena
itulah yang sesungguhnya yang termuat dalam Surat Ar-Rad, Ayat 11; karena Allah
juga tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sehingga mereka mengubah keadaan
yang ada pada diri mereka sendiri, melakukan segala usaha logis mengatasi pencemaran
lingkungan hidup yang telah timbul disebabkan revolusi industri, memanfaatkan beragam
disiplin ilmu, melakukan semua peneli-tian, menevaluasi temuan, menarik
kesimpulan, menurunkan kaidah moral sampai hukum beri-kut sangsi yang berat, agar
tidak terulang lagi, barulah Allah Subhanahu Wataala akan menga-bulkan doa yang
dipanjatkan.
Laboratorium Bumi
Unruk menghadirkan
lingkungan hidup yang dibutuhkan beragam makhluk yang hidup di muka bumi
menelusuri perjalanan waktu, perlu dibangun sebuah laboratorium yang bertugas
meman-tau keadaan lingkungan hidup makhluk setiap saat, seoerti: udara, air,
darat, dan angkasa yang hasilnya setiap saat diberitakan cara berkala untuk diketahui
masyarakat dunia. Dengan sendiri-nya perlu terlebih dahulu diterangkan apa yang
dinamakan: “Standard Lingkungan Hidup” (SLH) yang perlu hadir di muka bumi yang
menjadi hak manusia berikut makhluk lainnya, yang dilindungi undang-undang
terjabar kedalam pelaksanaan hukum menempuh perjalanan kedua, atau kehidupan alam
fana di muka bumi, sebagaimana sebelum revolusi industri dimulai di Eropa
silam, sehingga setiap makhluk yang hidup di muka bumi ini dapat hidup normal
sebagai-mana yang ditakdirkan Allah Subhanahu Wataala menerapkan TMH.
Laboratorium demikian
tidak akan segera terbentuk, apalagi harus mencakup seluruh per-mukaan bumi,
karena akan tersusun dari serangkaian laboratorium penelitian lingkungan hidup yang
kini telah terdapat di bumi, tersebar kedalam banyak negara, dilola bangsa-bangsa
yang telah sadar akan dampak pencemaran yang ditimbulkan revolusi industri diawali
dari Eropa silam, dan menyebabkan beragam penyakit, antara lain: kanker, anak lahir
cacat, timbulnya gangguan gangguan hingga cacat mental, dan masih banyak lainnya;
bahkan telah ditemukan anak pikun masih pada
usia balita dalam keluarga berdiam di kawasan industri pengolahan mineral
(smelter) ditambang dari dalam perut bumi di bekas Negara Komunis silam.
Tidak dapat
disangkal, IB sangat membutuhka kepedulian yang manusia diasuhnya mulai lahir
ke alam fana di muka bumi sampai ke akhir hayat. Karena hanya dengan kepedulian
insan sebagai “balas budi”, IB mampu mengemban tugas mulia yang ditakdirkan
baginya mengasuh apapun apapun ragamnya diberikan Allah Subhanahu Wataala hadirr
ke alam fana di muka bumi, mulai: tumbuhan, hewan, hingga manusia; menyediakan
tempat berdiam dan menyediakan: udara, air, pangan, papan, dan lainnya, yang
bebas dari segala macam bahan pencemar apapun ragamnya, setelah IK berhenti
menyusukan bayi hampir dua tahun lamanya. Laboratorium bumi dengan demikian bertindak
sebagai “jembatan” atau antarmuka antara
makhluk dengan IB, sehingga manusia dapat mengetahui kesehatan yang disebut
akhir saat mengemban tugas. Itulah sebabnya mengapa laboratorium bumi haris
memantau lingkungan hidup manusia dari: kam-pung (desa), kecamatan, kabupaten,
propinsi, negara, dunia, hingga dengan angkasa; seluruhnya menjadi bagian dari
Informasi Lingkungan Hidup (ILH) yang dengan cara teratur dan cerdas harus dipantau
oleh laboratorium bumi, lalu diberitakan ke segala penjuru dunia. Pada tingkat desa
atau kampung, Mesjid-mesjid bagi umat Islam, juga Rumah-rumah Suci kepercayaan lain, bersama-sama bahu membahu memberi
penyuluhan kepada masyarakat yang hidup di muka bumi untuk lingkungan
masing-masing, atau menerima laporan dari masyarakat yang hidup di dari lingkungan
masing-masing, sehingga petugas berwenang yang bertugas melakukan pemuta-hiran
ILH selalu menerima informasi terakhir.
Dengan tersedianya
jaringan ILH, keadaan/kesehatan IB dapat diketahui semua orang dimana-mana, mudah
diolah, dimanfaatkan, dan disimpan. Dengan demikian keadaan IB, demikian kesehatannya
senantiasa tersedia dalam laporan ILH, mudah dipantau dalam perjalanan waktu, demikian
pula dikhabarkan oleh media kemana-mana tidak ubahnya cuaca. Sehubungan dengan yang
akhir ini, tidak dapat disangkal lagi perlu dilakukan kerjasama Antarbangsa
(Interna-sional) yang diikuti segala bangsa yang ada di muka bumi, karena
planit biru ini hanya sebuah. Setiap kerusakan timbul di muka bumi disebabkan perbuatan
tangan manusia yang melawan hukum perlu dihentikan, segera diperbaiki dan dipulihkan,
karena tidak ada peluang bagi manusia dan makhluk lain pindah ke planit lain, manakala
persiapan belum dilakukan. Kini hanya ada satu pilihan bagi manusia yang hidup
di muka bumi, yakni membersihkan yang akhir ini dari segala bahan pencemar yang dibuat oleh penghuninya sendiri
dengan revolusi industri diawali dari Eropa, lebih dari dua abad silam.
Departemen Limbah
Untuk
menyajikan ILH berkesinambungan, perlu didirikan sebuah Departemen Limbah (Depart-ment
of Waste) bagi tiap negara di muka bumi ini. Departemen ini terletak di “hulu”
upaya menghindarkan pencemaran lingkungan hidup timbul di muka bumi, karena Departemen
Lingkungan Hidup (Department of Invironment) yang telah dikembangkan selama ini
berada di hilir. Dengan penduduk bumi yang
terus meningkat jumlahnya, permasalahan yang dihadapi umat kedepan, adalah: sumber tenaga,
pangan, sandang, papan, dan lainnya yang kian besar jumlahnya begitu pula mutunya. Sebagaimana
yang telah dikemukakan sebelumnya pemenuhan kebutuhan, akan mengundang lebih
banyak aliran benda (materi) dari dalam perut bumi menuju permukaan yang akan menimbulkan
limbah tidak diinginkan.
Departemen
limbah yang dibentuk di setiap negara, pertama akan menangani limbah ditimbulkan aliran benda (materi) dari dalam perut bumi
menuju permukaan timbul sejak awal revolusi industri lebih dari dua abad silam,
kini mencemari muka bumi yang belum juga terurai. Perlu dibangun Laboratorium
Penelitian “Rekayasa Mundur Limbah”,
disingkat RML (Waste Reverse Engineering, disingkat WRE), untuk mengurai habis
ikatan kimia yang berlangsung lama hingga tidak lagi mencemari lingkungan hidup.
Departeman Limbah juga harus pula merekayasa lim-bah yang mungkin timbul dari
beragam usaha atau bisnis dilakukan penduduk bumi yang dapat diurai lagi tanpa
menimbulkan limbah. Dengan demikian sebuah “kamus besar” reaksi kimia yang
dapat diurai kembali tanpa limbah, dapat membantu para pengusaha menghaslkan barang dan jasa
yang tidak lagi meninggalkan limbah dibuang menuju lingkungan.
Kini
terdapat yang dinamakan: Pengetahuan Bahan dan Rekayasa bahan (Materials Science
and Engineering) yang dapat melahirkan beragam bahan yang baru samasekali dimanfaatkan
bermacam industri, dan masih belum lagi diketahui
dampak negative yang ditimbulkannya kelak, manakala beralih menjadi limbah. Departemen
limbah juga harus mewaspadai teknologi dikem-bangkan
oleh umat manusia di muka bumi berjalan seiring TMH (Teknologi Mahluk Hidup)
ciptaan Ilahi, agar keduanya tidak akan saling mempengaruhi berdampak tidak diinginkan,
karena sama-sama menggunakan unsur kimia
yang terdapat dalam tabel Mendeleyev.
Departeman
Limbah juga harus dapat meramalkan bermacam limbah yang dapat muncul kelak, menyimak kecenderungan masyarakat mendirikan usaha,
koperasi, dan lainnya; sekaligus me-nyiapkan RML diperlukan untuk melenyapkan
limbah yang dihasilkan.
Masih banyak tugas yang harus diemban departemen
limbah mengawal kehidupan umat di muka bumi, agar tidak terdapat lagi bahan
kimia pencemar: biasa, berbahaya, dan sangat berbahaya yang tersebar, atau berkeliaran oleh belum
atau tidak diketahuinya tentang sifat bersahabat atau tidak bersahabatnya terhadap
TMH karunia Ilahi yang telah ditakdirkan hadir di muka bumi.
--------- sekian
---------
Penulis:
H.M.Rusli Harahap
Pamulang Residence G1
Jalan Pamulang 2, Pondok Benda.
Kode Pos: 15416. Tangerang Selatan.
Tel. 021-74631125.





